Jakarta · Senin, 7 September 2026Cari
WargaKonoha

JK Dorong Perubahan Pendidikan Indonesia: Bukan Banyak Bicara, tapi Banyak Tindakan

Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI Jusuf Kalla menekankan pentingnya perubahan dalam pendidikan Indonesia yang harus berbasis pada tindakan nyata, bukan sekadar gagasan. JK menyampaikan hal ini saat berpartisipasi dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Jakarta Pusat pada Sabtu malam, 5 September 2026. Menurut JK, pendidikan harus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan menyiapkan lulusan yang siap menghadapi tantangan kehidupan nyata, bukan hanya fokus pada pencapaian akademis. Ia memperkenalkan konsep tiga unsur pendidikan holistik: head (kemampuan berpikir), heart (akhlak dan karakter), dan hand (keterampilan praktis). Ketiganya harus seimbang agar lulusan tidak hanya kuat secara teoritis tetapi juga mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam menyelesaikan masalah.

JK juga menyoroti kesenjangan antara kemampuan akademis dan kesiapan kerja lulusan. Ia menyebut Indonesia menghasilkan sekitar satu juta lulusan per tahun dari sekitar 4.500 perguruan tinggi, dengan rata-rata sarjana butuh waktu dua hingga tiga tahun untuk mendapatkan pekerjaan sesuai latar belakang pendidikan. JK menyampaikan perkiraan bahwa sekitar tiga juliah sarjana menganggur, meski angka ini bukan statistik resmi BPS. Menurutnya, masalah ini tidak hanya disebabkan oleh terbatasnya lapangan kerja, tetapi juga kemampuan lulusan yang kurang dalam mengaplikasikan pengetahuan yang dipelajari. JK menekankan bahwa kemampuan menghafal tidak sama dengan kecerdasan; logika dan inovasi harus ditonjolkan agar seseorang mampu memecahkan masalah secara kreatif.

Akhirnya, JK menegaskan bahwa perubahan pendidikan tidak akan terwujud hanya melalui wacana. Langkah konkret dari seluruh pihak diperlukan agar visi pembentukan manusia yang utuh benar-benar terlihat dalam kemampuan lulusan di masa depan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait