Jakarta · Jumat, 4 September 2026Cari
WargaKonoha

Kalimantan Mengering, Risiko Bisnis Batu Bara Mulai Menghantui Industri Energi

Kekeringan di Kalimantan, termasuk penyusutan Sungai Kapuas dan Sungai Barito, menimbulkan risiko bagi bisnis batu bara dan sektor energi berbasis fosil. Menurut Bhima Yudhistira dari CELIOS, perubahan iklim yang semakin intensif dapat meningkatkan risiko operasional, ekonomi, dan infrastruktur terkait batu bara. Studi Toxic 20 menunjukkan kerugian ekonomi dari penggunaan batu bara di PLTU mencapai Rp1.813 triliun, dengan potensi peningkatan akibat biaya kesehatan dan kerusakan lingkungan.

Tekanan lingkungan di Kalimantan semakin terlihat, terutama di Kalimantan Tengah, di mana sekitar 60% dari 15,3 juta hektare wilayah berada dalam penguasaan konsesi, termasuk sektor pertambangan batu bara. Janang Firman Palanungkai dari Walhi Kalteng menyatakan bahwa rangkaian bencana ekologis perlu menjadi evaluasi besar bagi pemerintah.

Sektor keuangan juga terdampak. Laporan BersihkanBankmu mencatat pembiayaan perbankan domestik kepada perusahaan batu bara sepanjang 2021-2024 mencapai US$7,2 miliar, dengan US$5,6 miliar berasal dari bank nasional. Risiko ini diperkirakan meningkat seiring transisi energi global. Bhima menekankan pentingnya percepatan pensiunan PLTU batu bara dan penghentian pembiayaan agar risiko ekonomi akibat krisis iklim tidak terus berlipat.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait