Jakarta · Jumat, 4 September 2026Cari
WargaKonoha

Keracunan MBG Kembali Merebak, Dapur Berbasis Sekolah Mulai Dipertimbangkan Lagi

Kasus dugaan keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali tersebar di sejumlah wilayah Indonesia pada pekan awal September 2026. Ratusan siswa dan guru dilaporkan mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan MBG. Kejadian ini tercatat di puluhan sekolah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan Aceh. Berdasarkan data per 2 September 2026, terdapat 50.059 korban dari 460 kejadian keracunan yang tersebar di 36 provinsi dan 245 kabupaten/kota. Menurut Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris, hampir semua provinsi pernah mengalami kasus keracunan dalam dua tahun terakhir, dan setengah dari kabupaten/kota juga pernah terdampak.

Charles menyoroti bahwa sistem penyediaan makanan MBG yang mengandalkan dapur tersentralisasi melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi bagian dari permasalahan. Ia mengusulkan agar Badan Gizi Nasional (BGN) mengubah sistem ini ke dapur berbasis sekolah untuk memperpendek waktu antara makanan selesai dimasak dan dikonsumsi. Menurutnya, makanan yang dikonsumsi setelah empat jam dari pembuatan berada pada suhu kritis (di antara 5 hingga 60 derajat Celsius), sehingga risiko kontaminasi bakteri meningkat.

Dengan dapur berbasis sekolah, waktu distribusi makanan kepada siswa dapat dipangkas, sekaligus memudahkan pengawasan penyimpanan dan penyajian. Sistem ini juga diharapkan mendukung ekonomi lokal karena bahan baku dapat diperoleh dari pasar, peternak, atau pemasok di sekitar sekolah. Namun, Charles menyampaikan bahwa jika sistem beralih ke dapur sekolah, pemerintah harus memberikan ganti rugi satu kali kepada dapur SPPG yang sudah beroperasi agar tidak menjadi beban berulang.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait