Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Membaca Arti Deflasi Juli 2026: Pasokan Melimpah atau Daya Beli Lesu?

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi 0,14 persen pada Juli 2026 dibandingkan bulan sebelumnya, sementara inflasi tahunan tercatat 2,88 persen. Deflasi terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 0,89 persen. Komoditas dominan penyumbang deflasi adalah bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, dan jeruk. Deputi BPS Ateng Hartono menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers pada Senin, 3 Agustus.

Pengamat CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai deflasi bulanan lebih dipengaruhi melimpahnya pasokan akibat panen raya hortikultura, bukan pelemahan permintaan massal. Ia menunjuk inflasi inti yang masih tumbuh 0,14 persen dan inflasi tahunan 2,88 persen sebagai tanda permintaan di luar pangan relatif stabil. Namun, ia mengingatkan kenaikan Nilai Tukar Petani ke 127,84 cenderung semu karena harga jual di tingkat petani jatuh. Ia meminta perlindungan pendapatan petani, termasuk realisasi cold storage dan optimalisasi Sistem Resi Gudang.

Pengamat Universitas Andalas Syafruddin Karimi juga menilai deflasi dipicu koreksi harga musiman, tetapi mengingatkan tekanan pendapatan masyarakat masih nyata. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 32.389 pekerja terkena PHK sepanjang Januari-Juni 2026. Ia menyoroti disparitas inflasi tahunan, seperti Papua Barat 5,47 persen dan Papua Selatan 1,46 persen, serta Indeks Harga Produsen yang melonjak 5,62 persen. Ia mendorong penguatan penyerapan panen oleh Bulog dan BUMD, intervensi hilir yang berani, perluasan Jaminan Kehilangan Pekerjaan, serta relaksasi biaya produksi agar deflasi musiman tidak berubah menjadi gelombang PHK baru.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait