Jakarta · Minggu, 27 September 2026Cari
WargaKonoha

Meneropong Arah Rupiah Pekan Depan di Tengah Sentimen Geopolitik

Nilai tukar rupiah diprediksi melemah hingga kisaran Rp18.150-Rp18.200 per dolar AS pada pekan depan, didorong oleh penguatan indeks dolar AS yang diperkirakan berada di level 100,10-102,20. Pengamat Ekonomi dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa tekanan geopolitik global dan harga minyak mentah yang tetap tinggi menjadi faktor utama yang membebani mata uang domestik. Ia memperkirakan harga WTI bergerak di kisaran US$87,60-US$100,10 per barel, sehingga kebutuhan dolar AS untuk pembayaran energi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% pada 22-23 September 2026 untuk menstabilkan rupiah di tengah tekanan eksternal. Pada 22 September 2026, rupiah diperdagangkan di Rp17.855 per dolar AS, melemah 0,78% dibanding akhir Agustus. Dewan Ekonomi Nasional mencatat rupiah melemah sekitar 0,9% secara month-to-date hingga Rp17.872 per dolar AS pada tanggal yang sama. Arus keluar modal nonresiden dari pasar keuangan domestik juga berkontribi pada tekanan ini.

Rupiah kemudian mendekati Rp18.000 per dolar AS pada 24 September 2026 dan ditutup di Rp17.916, melemah 0,55%. Ibrahim menambahkan bahwa ketegangan di Timur Tengah berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global. Dengan kondisi ini, rupiah diperkirakan akan tetap volatil dengan kisaran utama Rp17.800-Rp18.200 per dolar AS pada pekan depan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait