Menjadikan Risiko Iklim sebagai Strategi Nyata dan Standar Ketahanan Bisnis di Era Global
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Perubahan iklim kini menjadi risiko bisnis nyata yang berdampak pada kinerja finansial, operasional, dan regulasi. Untuk menjaga ketahanan jangka panjang, perusahaan didorong mengintegrasikan fungsi keuangan, manajemen risiko, dan keberlanjutan guna mengubah ambisi net-zero menjadi tindakan terukur yang terhubung dengan laporan keuangan.
Secara regulasi, standar global IFRS S2 telah diadopsi di Indonesia menjadi PSPK 2 oleh DSK IAI, yang disahkan 1 Juli 2025 dan berlaku efektif 1 Januari 2027. Perusahaan wajib mengungkapkan risiko dan peluang iklim, termasuk risiko fisik seperti kerusakan aset akibat karhutla serta risiko transisi berupa sanksi hukum dan pembatasan pasar global.
Strategi mitigasi yang disarankan meliputi pengawasan tingkat direksi, penerapan kebijakan tanpa bakar, serta analisis spasial berbasis satelit. Penilaian risiko iklim dipandang bukan sekadar kepatuhan regulasi, melainkan alat navigasi strategis untuk mengidentifikasi peluang kompetitif dan melindungi aset di tengah ekonomi global.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JPNN.com · 15 September 2026 pukul 20.47
Menjadikan Risiko Iklim sebagai Strategi Nyata dan Standar Ketahanan Bisnis di Era Global
Berita terkait
Inovasi Jadi Penggerak Bisnis Berkelanjutan
Media Indonesia · 11 September 2026 pukul 13.47
Riset DBS Ungkap Sustainability Makin Menentukan Masa Depan Bisnis
Liputan6.com · 21 Agustus 2026 pukul 13.00
Asosiasi Pelaku Usaha Emas RI Resmi Diluncurkan, BSI-Pegadaian Jadi Anggota
kumparan · 20 Agustus 2026 pukul 14.07
Pigai Siapkan Sanksi Blokir Akses Perbankan Perusahaan Pelanggar HAM
CNN Indonesia · 18 Agustus 2026 pukul 16.13