Jakarta · Senin, 24 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Pemerintah Luruskan soal Emas 1.800 Ton di Bawah Bantal Warga RI

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menjelaskan istilah 'emas 1.800 ton di bawah bantal' sebagai metafora untuk menggambarkan akumulasi kepemilikan emas masyarakat Indonesia yang terbentuk selama bertahun-tahun. Menurut Juru Bicara Haryo Limanseto, sekitar 1.800 ton emas tersebar di rumah tangga dan masih disimpan secara pribadi, dengan nilai sekitar US$252 miliar atau Rp4,47 triliun. Angka ini berbeda dengan cadangan emas nasional yang diperkirakan mencapai 3.600 ton, dan tidak menggambarkan tambahan terhadap cadangan tersebut.

Pemerintah menekankan bahwa 1.800 ton emas ini hanyalah ilustrasi potensi, bukan wajib untuk memindahkan atau menyerahkan emas masyarakat. Menteri Koordinator Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah tidak bermaksud mengambil alih kepemilikan emas warga, melainkan ingin membangun ekosistem bullion yang menyediakan pilihan instrumen keuangan aman dan terintegrasi. Jika sekiti 20 persen emas masyarakat masuk ke instrumen keuangan, dampaknya bagi pengembangan pasar bullion dan perekonomian nasional diperkirakan sangat besar.

Dalam konteks internasional, stok emas Indonesia (1.800 ton) berada di bawah Amerika Serikat (8.133 ton) dan China (2.331 ton), namun lebih tinggi dibandingkan India (880 ton). Pemerintah berupaya meningkatkan nilai tambah hilirisasi sektor pertambangan melalui pengembangan pasar bullion yang efisien, likuid, transparan, dan terintegrasi.

Peristiwa ini diliput 6 media — baca rangkuman gabungannya

Diberitakan juga oleh


Berita terkait