Rupiah Sempat Tertekan Mendekati 18.000, Sentimen Eksternal Biang Keladinya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3029348/original/099783600_1579686479-20200122-Penguatan-Rupiah-1.jpg)
Rupiah sempat menurun mendekati level 18.000 per dolar AS pada September 2026, dipicu oleh sentimen eksternal. Tekanan utama datang dari penguatan Dollar Index di atar 101 dan lonjakan yield US Treasury 10 tahun ke 5,1%, sekaligus ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed di Desember 2026. Kedua ekonom, David Sumual (BCA) dan Teuku Riefky (LPEM FEB UI), menekankan tidak ada faktor domestik signifikan yang menyumbang tekanan, melainkan dampak eksternal terhadap semua mata uang emerging market. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan meski memiliki ruang naik 25-50 bps di Q4 2026 untuk menanggulangi inflasi akibat El Nino dan kenaikan harga minyak. Proyeksi rupiah bergerak di kisaran 17.600-18.000 per dolar AS, dengan sektor yang rentan meliputi plastik, TI, farmasi, elektronik, makanan, pupuk, dan tekstil. BI tetap memakai intervensi pasar dan hedging untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 25 September 2026 pukul 13.58
Dolar AS Dekati Rp18.000/US$, Airlangga Buka Suara
CNBC Indonesia · 25 September 2026 pukul 09.03
Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Kembali Tembus Rp17.900
ANTARA News · 24 September 2026 pukul 16.46
Rupiah melemah seiring data PMI AS tumbuh kuat
SINDOnews · 24 September 2026 pukul 16.35
Rupiah Terkapar Makin Parah, Hari Ini Dekati Rp18.000 per Dolar AS
Berita terkait
Bos BI Bongkar Alasan Tahan BI Rate di Tengah Tren Suku Bunga Tinggi
Warta Ekonomi · 23 September 2026 pukul 15.05
Analis Prediksi BI Rate Tetap 5,75 Persen Bulan Ini
CNN Indonesia · 23 September 2026 pukul 06.55
Rupiah Ditutup Melemah 0,54%, Dolar AS Kini Parkir di Rp17.825
CNBC Indonesia · 21 September 2026 pukul 15.06
Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp17.730/US$
CNBC Indonesia · 18 September 2026 pukul 15.06