Shell Raup Untung Rp 195 Triliun Imbas Perang Timur Tengah
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3952406/original/056196200_1646385041-FOTO.jpg)
Shell mencatat laba bersih hingga tiga kali lipat menjadi US$ 10,8 miliar (sekitar Rp 195,2 triliun) pada kuartal kedua 2026, dibandingkan US$ 3,6 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan laba didorong harga minyak dunia yang melonjak akibat perang AS-Iran di Timur Tengah yang mengganggu pasokan global. Pendapatan Shell naik 45% secara tahunan menjadi US$ 96,4 miliar, meskipun produksi gas mereka merosot dari 909.000 barel setara minyak per hari menjadi 631.000 barel per hari karena kerusakan fasilitas LNG Ras Laffan di Qatar.
Shell mengumumkan buyback saham senilai US$ 3 miliar. Harga sahamnya naik 1,6% di FTSE 100. TotalEnergies juga melaporkan laba yang melonjak dua kali lipat menjadi US$ 5,4 miliar. Sementara itu, Oxfam memproyeksikan enam perusahaan energi terbesar dunia (BP, Chevron, Eni, ExxonMobil, Shell, dan TotalEnergies) dapat mengumpulkan laba hingga US$ 147 miliar setahun penuh, dan mendesak pemerintah mengenakan pajak lebih tinggi kepada industri minyak besar.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 1 Agustus 2026 pukul 16.38
AS-Israel Bersiap Serang Pembangkit Listrik hingga Kilang Minyak Iran
Detik.com · 30 Juli 2026 pukul 10.36
Menhan Arab Saudi Bertemu Trump Usai Serangan AS-Saudi ke Irak
Detik.com · 30 Juli 2026 pukul 10.17
Trump-Netanyahu Bahas Semua Opsi soal Iran, Termasuk Serangan
Berita terkait
Jalur Pipa Saudi Ditutup, Harga Minyak Dunia Tembus US$107
CNBC Indonesia · 14 September 2026 pukul 06.45
Harga Minyak Panas Lagi ke US$102,6 saat Tunggu Sinyal Pasokan Global
CNN Indonesia · 2 Oktober 2026 pukul 09.51
Harga Minyak Mentah Menguat Tipis Imbas Ketidakpastian Pasokan dari Timur Tengah
kumparan · 1 Oktober 2026 pukul 09.06
Harga Minyak Tembus US$ 103 di Tengah Mandeknya Perundingan AS-Iran
Liputan6.com · 1 Oktober 2026 pukul 06.43