Jakarta · Sabtu, 22 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Indonesia Dorong Adaptasi Iklim dan Kearifan Lokal dalam Pertemuan BRICS

Indonesia menekankan pentingnya adaptasi iklim, perlindungan keanekaragaman hayati, dan pemanfaatan pengetahuan tradisional dalam Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup BRICS ke-12 di New Delhi, India. Menteri Lingkungan Hidup RI Mohammad Jumhur Hidayat mendesak negara maji dengan ekonomi besar untuk bertanggung jawab atas emisi global dan polusi, meskipun kontribusi emisi mereka terbesar. Indonesia memperkenalkan tiga praktik tradisional: sistem irigasi Subak, Sasi Lompa, dan Awig-Awig. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan 60% penduduk pesisir, Indonesia menghadapi dampak iklim langsung seperti kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem. Rencana Adaptasi Nasional 2026-2030 menjadi pilar utama pembangunan berkelanjutan negara.

Beberapa media menyebutkan tanggal pertemuan berbeda. Media Indonesia melaporkan pertemuan berlangsung pada 17-18 Agustus 2024, sementara sembilan media lain (CNN Indonesia, SINDOnews, Detik.com, VOI, CNBC Indonesia, Warta Ekonomi) menyatakan tanggal 18 Agustus 2026. Selain itu, jumlah negara anggota BRICS yang hadir juga bervariasi: Media Indonesia dan VOI menyebutkan 10 dari 11 negara, sementara CNN Indonesia tidak menyebutkan jumlah tersebut.

Dalam hal keanekaragaman hayati, terdapat perbedaan dalam klaim spesifik. Beberapa media menyebutkan Indonesia memiliki lebih dari 300.000 spesies, termasuk 9,7% tumbuhan berbunga dunia, 14% mamalia, dan 18,6% burung. Sementara itu, Media Indonesia hanya menyebutkan 23% hutan mangrove dan 10% spesies karang dunia, tanpa menyebutkan persentase spesies lain. Ekosistem laut Indonesia di Segitiga Karang menyimpan 23% hutan mangrove global, 16% spesies ikan laut, dan 10% spesies karang dunia.

Menurut tiap media