Jakarta · Sabtu, 12 September 2026Cari
WargaKonoha

Konflik Yaman Memanas: Houthi Rebut Mokha, Trump Tolak Serangan AS, Eskalasi Laut Merah

Konflik antara pasukan pemerintah Yaman dan kelompok Houthi yang didukung Iran semakin memanas. Pada 10 September 2024, Houthi berhasil merebut kota pelabuhan strategis Mokha, yang terletak sekitar 70-80 km dari Selat Bab al-Mandab. Pada 8 September, tercatat 1.367 keluarga baru mengungsi di provinsi Taiz, Al-Hudaydah, dan Lahj, dengan total pengungsi mencapai 6.145 keluarga sejak awal September. Serangan Houthi meluas ke laut, termasuk serangan terhadap kapal MV Tihamah di Selat Bab al-Mandab yang menyebabkan satu warga negara Indonesia tewas, beberapa luka, dan satu orang hilang.

Di tingkat internasional, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) Arab Saudi menelepon Presiden AS Donald Trump dua kali untuk meminta serangan militer terhadap Houthi. Trump menolak permintaan tersebut, menyatakan tidak ingin terlibat lebih jauh dalam konflik langsung dan tetap fokus pada Iran serta pengamanan Selat Hormuz. Sebaliknya, Trump menjanjikan dukungan intelijen dan bantuan penentuan target kepada Saudi. Laksamata Brad Cooper, komandan CENTCOM, ditempatkan di Riyadh untuk koordinasi militer yang semakin ketat.

Eskalasi konflik sejak Juli 2026 ini melibatkan serangan udara koalisi Arab Saudi ke Marib, al-Jawf, Taiz, dan Hodeidah, sementara Houthi menyerang fasilitas kilang minyak Aramco dan Bandara Abha. Houthi juga mengumumkan blokade maritim di Laut Merah. Harga minyak Brent melonjak hingga US$105 per barel. Konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade ini telah menyebabkan lebih dari 150.000 kematian, dan PBB mendesak tanggapan terhadap potensi ancaman yang lebih besar terhadap navigasi internasional.

Menurut tiap media