Jakarta · Kamis, 1 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Krisis Energi dan Diplomasi AS-Iran: Sanksi, Harga Minyak, dan Upaya Damai

Beberapa media melaporkan kondisi yang sama terkait krisis energi dan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. SINDOnews dan Detik.com melaporkan bahwa Iran diperkirakan kehabisan minyak dalam dua minggu karena sisa pasokan hanya 15 jmillion barel, sementara militer AS mengklaim lebih dari 1 miliar barel telah melintasi Selat Hormuz. Iran mengajukan gencatan senjata selama tujuh hari dengan syarat pencairan aset sebesar USD12 miliar dan pembukaan Selat Hormuz penuh. Di sisi lain, Detik.com melaporkan bahwa Iran mengadu ke PBB terkait sanksi AS terhadap industri penerbangan, yang menyebabkan penangguhan penerbangan ke UEA dan beralihnya warga Iran ke Turki sebagai transit utama.

Harga minyak dunia naik secara signifikan setelah Presiden AS Donald Trump membantah laporan mengenai pembebasan sanksi Iran. CNN Indonesia dan Detik.com melaporkan bahwa harga Brent mencapai USD103,73 per barel dan WTI naik menjadi USD89,72 per barel pada 30 September 2026. Warta Ekonomi menyatakan bahwa kenaikan ini menghapus keuntungan dari penurunan sebelumnya sebesar 2,5% pada 29 September, yang dipicu pemulihan ekspor minyak Timur Tengah. Data Kpler menunjukkan ekspor minyak Timur Tengah mencapai 16,328 juta barel per hari pada September, level tertinggi sejak konflik dimulai pada Februari 2026. Qatar berperan sebagai mediator untuk mencegah eskalasi konflik, sementara AS menawarkan hingga 40 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) untuk menstabilkan pasar.

Tekanan ekonomi akibat sanksi dan blokade AS semakin terasa di berbagai sektor Iran, termasuk sektor kesehatan. Detik.com melaporkan bahwa harga lebih dari 2.000 jenis obat naik drastis, bahkan hingga enam kali lipat, sementara sejumlah obat seperti obat psikiatri dan vaksin flu mengalami kelangkaan. Warga Iran kesulitan mencari obat karena produsen dalam negeri hanya dapat memenuhi 80 persen kebutuhan, dan blokade laut AS menghambat import melalui laut sehingga beralih ke jalur udara yang lebih mahal. Meskipun tekanan terus berlanjut, jalur diplomasi tetap terbuka dengan pertemuan antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dan perwakilas Qatar di Doha, serta respons AS terhadap rencana pembangunan kepercayaan selama tujuh hari.

Menurut tiap media