Jakarta · Senin, 5 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

OPEC+ Tahan Produksi, G7 Lepas Cadangan 100 Juta Barel, Harga Minyak Turun di Atas US$100

OPEC+ sepakat menpertahankan target produksi minyak untuk November 2026 dalam pertemuan daring yang dihadiri tujuh negara utama: Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazir, Kazakhstan, dan Oman. Keputusan ini diambil meskipun produksi di kawasan Teluk masih berada di bawah kuota akibat gangguan ekspor yang berlanjut sejak konflik AS-Israel dengan Iran. Dalam beberapa bulan terakhir, volume ekspor minyak hanya mencapai 60-80% dari kondisi normal. Tujuh negara tersebut memproduksi sekitar 25 juta barel per hari (bpd) pada Agustus, naik 630.000 bpd dari Juli, namun masih sekitar 5 juta bpd di bawah level sebelum perang. OPEC+ juga mempertahankan pemotongan produksi 2 juta bpd.

Harga minyak dunia turun setelah negara-negara G7 sepakati melepas 100 juta barel dari cadangan stok darurat. Keputusan ini, yang mencakup 70 juta barel minyak mentah dan 30 juta barel diesel, ditujukan untuk meredakan tekanan harga akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak Brent berjangka turun 0,34 persen ke US$101,90 per barel, sementara WTI AS turun 0,68 persen ke US$90,49 per barel. Penurunan ini juga didorong oleh pemulihan ekspor minyak dari Timur Tengah yang kembali melampaui level sebelum konflik.

Analis UBS Giovanni Staunovo menyatakan bahwa pasar minyak global tetap ketat meskipun aliran melalui Selat Hormuz mulai membaik, namun produksi tetap jauh di bawah target yang ditetapkan. Analis KCM Trade, Tim Waterer, menambahkan bahwa kombinasi pelepasaan cadangan strategis dan pemulihan volume ekspor Arab Saudi yang kembali mendekati tingkat sebelum perang cukup untuk menekan harga minyak saat ini. Meskipun demikian, risiko kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur energi di kawasan Teluk belum sepenuhnya hilang. OPEC+ menunda tinjauan produksi 2027 akibat ketidakpastian pasca-perang di Timur Tengah.

Menurut tiap media