Jakarta · Senin, 5 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

OPEC+ Sepakat Tahan Produksi Minyak

OPEC+ sepakat mempertahankan target produksi minyak untuk November 2026 dalam pertemuan daring yang dihadiri tujuh negara utama: Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazir, Kazakhstan, dan Oman. Keputusan ini diambil meskipun produksi di kawasan Teluk masih berada di bawah kuota akibat gangguan ekspor yang berlanjut sejak konflik AS-Israel dengan Iran. Dalam beberapa bulan terakhir, volume ekspor minyak hanya mencapai 60-80% dari kondisi normal. Analis UBS Giovanni Staunovo menyatakan bahwa pasar minyak global tetap ketat meskipun aliran melalui Selat Hormuz mulai membaik, namun produksi tetap jauh di bawah target yang ditetapkan.

Harga minyak mentah turun pada Jumat setelah negara-negara Eropa menyetujui permintaan Presiden AS Donald Trump untuk melepas cadangan strategis. Brent turun tipis 6 sen menjadi US$102,25 per barel, sementara WTI AS turun US$1,76 menjadi US$91,11 per barel. G7 akan melepas total 100 juta barel cadangan selama empat bulan ke depan, dengan fokus pada cadangan diesel pada 20 hari pertama. Meskipun melemah, harga Brent tetap berada di atas US$100 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan US$73 per barel sebelum konflik Iran pecah pada akhir Februari 2026.

Konflik di Timur Tengah juga menyebabkan target produksi OPEC+ sepanjang 2026 sebagian besar hanya terwujud di atas kertas. Tujuh negara tersebut memproduksi sekitar 25 juta barel per hari (bpd) pada Agustus, naik 630.000 bpd dari Juli, namun masih sekitar 5 juta bpd di bawah level sebelum perang. OPEC+ juga mempertahankan pemotongan produksi 2 juta bpd. Pertemuan berikutnya dijadwalkan pada 1 November, dengan kemungkinan perubahan target produksi belum dilakukan sebelum 2027.

Peristiwa ini diliput 2 media — baca rangkuman gabungannya

Diberitakan juga oleh


Berita terkait