Jakarta · Minggu, 13 September 2026Cari
WargaKonoha

Pertamina Olah Minyak Jelantah jadi Bioavtur, Butuh Rp 19 Triliun hingga Produksi 2029

PT Pertamina Patra Niaga merencanakan pembangunan biorefinery di Kilang Cilacap untuk mengolah minyak jelantah (UCO) menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur. Proyek ini menempati lahan 17,5 hektar dengan investasi sekitar US$ 1,1 miliar atau Rp 19,25 triliun, dan target kapasitas produksi mencapai 860 kiloliter per hari. Timeline proyek dimulai dengan Final Investment Decision (FID) dan pencarian mitra pada 2026, konstruksi pada 2027, hingga operasional pada 2029.

Pasokan minyak jelantah diperoleh melalui dua skema: B2C melalui drop box bagi masyarakat dan B2B melalui kerja sama dengan sektor HoReKa, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dapur SPPG dalam program MBG, serta Gapulimgi. Harga pembelian minyak jelantah melalui skema B2C ditetapkan pada Rp 6.000 per liter, sementara skema B2B dipatok lebih tinggi.

Pengembangan bioavtur ini telah berjalan sejak 2020 dengan uji coba seperti penerbangan CN-235 (2021) dan Boeing 737-800NG Garuda Indonesia (2023). Setelah meraih sertifikasi ISCC CORSIA dan TDHT di Kilang Cilacap pada 2024, Pertamina menargetkan produksi perdana SAF pada Juli-Agustus 2025 di Kilang RU IV Cilacap, dengan target kandungan SAF hingga 3 persen untuk mendukung penerbangan yang lebih berkelanjutan.

Menurut tiap media