Jakarta · Senin, 14 September 2026Cari
WargaKonoha

Rupiah melemah, pasar antisipasi kenaikan suku bunga The Fed dan tekanan geopolitik

Beberapa media melaporkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin, 14 September 2026. CNBC Indonesia membuka dengan Rp17.605, sementara CNN Indonesia dan Media Indonesia mencatatkan pelemahan ke Rp17.614. Di akhir sesi sore, rupiah tertekan lebih lanjut hingga Rp17.669, sejalan dengan laporan Detik.com dan CNN Indonesia. Rupiah mengikuti tren mayoritas mata uang Asia dan negara majapun melemah terhadap dolar AS, termasuk yuan China, yen Jepang, euro Eropa, dan poundsterling Inggris.

Faktor utama pelemahan rupiah adalah ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin (Bps) menjadi 4 persen, sebagaimana dilaporkan oleh ANTARA News, Media Indonesia, dan Liputan6.com. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga mendekati 5 persen, menambah tekanan. CNBC Indonesia menyebutkan peluang kenaikan The Fed sebesar 25 Bps mencapai 60% pada September 2026, sementara JawaPos memprediksi rupiah bisa melemah hingga Rp17.850 per dolar AS minggu depan.

Tekanan geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina, memicu penguatan indeks dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah WTI yang menembus 100 dolar AS per barel, melebihi asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel. Data inflasi dan Producer Price Index (PPI) AS yang naik menjadi 5,4% yoy juga memperkuat permintaan dolar. Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil langkah hawkish pada Rapat Dewan Gubernur pekan depan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Di sisi lain, Detik.com melaporkan pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara, yang dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto.

Menurut tiap media