Studi Temukan Alasan di Balik Kanibal Masih Terjadi pada Manusia
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3969103/original/099705100_1647806230-chelms-varthoumlien-j-zQJk6aaaA-unsplash.jpg)
Penelitian dari Universitas Wroclaw di Polandia dan Universitas Charles di Republik Ceko menggunakan model matematika untuk mengevaluasi risiko dan manfaat kanibalisme pada manusia. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal PNAS dan menunjukkan bahwa kanibalisme tidak berkelanjutan dalam jangka panjang karena risiko penyebaran penyakit yang tinggi. Daging manusia memang bisa memberikan nutrisi, tetapi konsumsi antar spesies yang sama meningkatkan kemungkinan infeksi patogen.
Kanibalisme hanya dianggap masuk akal dalam situasi tertentu, yaitu saat mengonsumsi daging manusia yang sudah mati, dimasak untuk keamanan, dan bukan dari sesama kanibal. Contoh nyata adalah suku Fore di Papua Nginui yang terkena penyakit kuru, sejenis penyakit prion, setelah berhenti memakan jenazah ritual. Peneliti menyebutkan bahwa dampak epidemiologis dari penyebaran penyakit tak tersembuhkan lebih besar daripada manfaat kalori, sehingga komunitas kanibal cenderung musnah.
Para peneliti menyimpulkan bahwa kanibalisme terjadi secara episodik, dan tabu budaya berfungsi sebagai perisai efektif untuk melindungi populasi dari kepunahan. Studi ini juga mengakui kemungkinan faktor lain seperti teror tetangga atau penegakan status yang perlu diteliti lebih lanjut.
Bagikan
Berita terkait
Peneliti Israel Ungkap 50% Umur Manusia Sudah Ditentukan di Kandungan
CNBC Indonesia · 16 Agustus 2026 pukul 14.45
SBY Minta Maaf Tak Bisa Hadiri Upacara HUT ke-81 RI di Istana Hari Ini
Detik.com · 17 Agustus 2026 pukul 16.08
Kubu Ruben Onsu: Sarwendah Harus Ikut Diperiksa soal Isu Penyakit Tiga Huruf
Warta Ekonomi · 17 Agustus 2026 pukul 15.30
Ibas Wakili SBY Hadiri Upacara HUT Ke-81 RI di Istana Merdeka
Media Indonesia · 17 Agustus 2026 pukul 15.04