Warga Khawatir Warna Merah Peta SO2 Anak Krakatau, Ini Faktanya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Badan Geologi Kementerian ESDM mengklarifikasi bahwa warna merah pada peta sebaran sulfur dioksida (SO2) akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak berarti udara di permukaan berbahaya. Warna merah tersebut menunjukkan jumlah SO2 dalam seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu (satuan mg/m²), bukan konsentrasi gas yang langsung dihirup manusia di permukaan (satuan ppm).
Bau belerang dapat tercium karena fenomena lava fountain melepaskan gas ke atmosfer yang lebih rendah. Meskipun konsentrasi hingga 5 ppm dianggap aman, paparan di atas ambang tersebut dapat menyebabkan iritasi mata, batuk, dan sesak napas. Masyarakat diimbau menggunakan masker, tetap di dalam ruangan, dan tidak meminum air hujan.
Saat ini, status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung tersebut.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNN Indonesia · 8 September 2026 pukul 16.30
Badan Geologi: Anak Krakatau 8 Kali Erupsi saat Penerbangan Dibuka
CNN Indonesia · 8 September 2026 pukul 13.53
Apa Itu Gas SO2 yang Menyebar Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau?
kumparan · 8 September 2026 pukul 13.30
Gelombang Akustik dan Abu Erupsi Anak Krakatau: Mekanisme dan Dampak
CNBC Indonesia · 8 September 2026 pukul 12.30
Erupsi Gunung Anak Krakatau Bakal Membesar? Ini Kata Badan Geologi
Berita terkait
Penjelasan Badan Geologi soal Dentuman Misterius di Bandung, Terkait Erupsi Anak Krakatau?
JPNN.com · 5 September 2026 pukul 21.30
Kondisi Terkini Krakatau, Badan Geologi Ungkap Potensi Erupsi Lagi
CNBC Indonesia · 8 September 2026 pukul 12.20
Masih Siaga! Anak Krakatau Erupsi Lagi-Gempa Menerus Terjadi Hari Ini
CNBC Indonesia · 8 September 2026 pukul 10.35
Anak Krakatau Muncul di Permukaan Laut Hampir 100 Tahun, Ini Jejaknya
CNBC Indonesia · 7 September 2026 pukul 17.33