Jakarta · Senin, 7 September 2026Cari
WargaKonoha

1 Abad Ponpes Gontor, HNW Soroti Kiprah Alumni dalam Perjalanan Bangsa

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menegaskan kiprah alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) dalam perjalanan ketatanegaraan Indonesia telah berlangsung sejak lama. Menurutnya, sejak era MPRS hingga Reformasi, alumni Gontor tercatat mengisi posisi penting di lembaga permusyawaratan negara. HNW mencatat Ketua MPRS pertama, KH Dr Idham Chalid, merupakan alumni Gontor. Memasuki era Reformasi, posisi Ketua MPR RI juga pernah dijabat oleh alumni Gontor, yakni Hidayat Nur Wahid. "Sepanjang sejarah Reformasi selalu saja alumni Gontor menjadi pimpinan MPR. Kalau tidak ketua, adalah wakil ketua," kata HNW, dalam keterangannya, Senin (7/9/2026). Hal tersebut disampaikan HNW dalam acara Malam Peradaban yang digelar untuk menyambut 100 tahun PMDG, di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (6/9) malam. Menurut HNW, kiprah tersebut menunjukkan bahwa selama satu abad pertama, Gontor tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga turut memberikan warna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menilai nilai-nilai yang ditanamkan di lingkungan pesantren, seperti etika, ilmu pengetahuan, pembelajaran, dan semangat perjuangan, perlu terus diwujudkan para alumni melalui berbagai bidang pengabdian. HNW menambahkan Gontor telah memberikan kontribusi melalui pendidikan yang tidak memisahkan penguasaan ilmu dengan nilai keagamaan. Prinsip tersebut dinilai relevan dengan arah pendidikan nasional sebagaimana ditegaskan dalam konstitusi. Dalam konteks itu, HNW menilai konstitusi menjadi instrumen penting untuk memastikan kebijakan pendidikan tetap berada dalam koridor yang telah ditetapkan negara. Penguatan terhadap pendidikan keagamaan juga diwujudkan melalui Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional dan kemudian Undang-Undang tentang Pesantren yang disahkan pada 2019. HNW mengatakan lahirnya UU Pesantren merupakan hasil kolaborasi pemerintah, DPR, dan para kiai pesantren. Ia juga menyoroti peran Menteri Agama saat itu, Lukman Hakim Saifuddin, yang merupakan alumni Gontor. "Hadirlah Undang-Undang tentang Pesantren yang memberikan bingkai amat sangat kokoh dan kuat bagi pesantren dan bagi alumni-alumni pesantren," katanya. Menurutnya, penguatan posisi pesantren melalui regulasi menjadi bagian penting dalam memastikan nilai-nilai keagamaan dan kepesantrenan tetap menjadi bagian dari pembangunan bangsa. Memasuki usia 100 tahun, HNW berharap Gontor tidak berhenti pada pencapaian sejarah, tetapi menjadikan pengalaman satu abad pertama sebagai modal untuk memasuki abad kedua. Menurut HNW, modal tersebut semakin besar dengan berkembangnya cabang-cabang Gontor, munculnya pesantren-pesantren yang terinspirasi dari Gontor, serta kiprah para alumninya di berbagai bidang. Ia berharap Gontor dapat terus membersamai perjalanan bangsa Indonesia sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat dunia dengan menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil alamin. Dan itu akan menjadi sesuatu yang sangat mungkin dilakukan ketika basisnya adalah pendidikan pesantren, pesantren yang modern, pesantren yang terus bisa menghadirkan spirit dan sekaligus inspirasi yang tidak pernah berhenti. Ia menilai pendidikan pesantren yang modern dapat menjadi salah satu kekuatan untuk membangun manusia Indonesia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki semangat pengabdian. Karena itu, HNW mengaitkan penguatan pendidikan berbasis nilai keagamaan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Menurut HNW, visi tersebut akan lebih mungkin diwujudkan apabila arah pendidikan nasional benar-benar dijalankan sesuai amanat konstitusi dan UU Pesantren. "Kita akan bisa menuju Indonesia Emas 2045 ketika kemudian tujuan pendidikan nasional dan Undang-Undang tentang Pesantren diwujudkan dengan sebenar-benarnya," tegasnya. HNW juga menyampaikan apresiasi kepada para kiai dan pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor yang selama satu abad dinilai konsisten menjaga dan mengembangkan lembaga pendidikan tersebut. Ia mengajak seluruh keluarga besar Gontor memandang peringatan satu abad bukan sebagai titik akhir, melainkan momentum untuk melanjutkan perjuangan pada abad kedua. Peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dijadwalkan berlangsung pada 19-20 September 2026 di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. HNW berharap Gontor dapat terus menjadi pusat pendidikan yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, serta mampu berkontribusi bagi bangsa dan dunia. "Terima kasih yang luar biasa, yang sangat mendalam kepada para kiai kita, para pimpinan kita Pondok Modern Darussalam Gontor yang telah bukan hanya menghadirkan, tetapi menjaga, mengembangkan, sehingga kita semuanya pada malam hari ini bisa berada di sini untuk kemudian melanjutkan perjuangan di abad kedua daripada Pondok Modern Darussalam Gontor," pungpasnya. Sebagai tambahan, hadir dalam acara, Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal dan K.H. M. Akrim Mariyat, bersama seluruh jajaran Anggota Badan Wakaf PMDG, para Duta Besar negara sahabat antara lain dari Kuwait, Palestina, Turki, Tunisia, Sudan, dan para peserta Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026. Acara juga dihadiri Plt Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah dan tamu undangan lainnya.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait