Ada Jasa Properti China di Balik Harga Minyak Tak Benar-Benar Gila
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Perlambatan sektor properti China membantu menahan lonjakan harga minyak global meskipun ada ketegangan di Selat Hormuz. Melemahnya aktivitas konstruksi mengurangi permintaan diesel, dengan produksi solar China turun ke 12,9 juta ton pada Juni 2026, terendah sejak 2010. Volume pembangunan rumah baru mencapai titik terendah sejak 2002, menyebabkan banyak proyek terhenti.
Akibatnya, konsumsi diesel merosot, dengan produksi kilang minyak China turun sekitar 2,5 juta barel per hari antara Maret hingga Juni, hampir 900 ribu barel dari pemangkasan diesel. Produksi diesel kini turun sepertiga dari puncak 2022, sementara aspal anjlok lebih dari dua pertiga dari 2021. China juga mengalihkan produksi ke petrokimia seperti plastik dan nafta, dengan produksi plastik mentah melampaui bensin.
Penjualan truk listrik terus meningkat, mencakup sepertiga penjualan baru, dan ditargetkan 40% pada 2030. Kombinasi krisis properti dan transisi kendaraan listrik membuat permintaan minyak China memasuki tren penurunan jangka panjang, sehingga membantu stabilkan harga minyak dunia.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JPNN.com · 30 Juli 2026 pukul 16.01
Harga Minyak Dunia Menggila, Singapura Kucurkan Rp 9,8 T untuk Ringankan Beban Warga
Berita terkait
Harga Minyak Dunia Tertahan, Kesepakatan Selat Hormuz Dinanti
Liputan6.com · 6 Agustus 2026 pukul 07.40
Harga Minyak Dunia Siap Meledak di Tengah Kebuntuan Negosiasi Damai AS-Iran, Selat Hormuz Mencekam
SINDOnews · 17 Agustus 2026 pukul 09.04
Harga Minyak Dunia Tembus USD88,52 per Barel, Melonjak 6% dalam Sepekan
SINDOnews · 16 Agustus 2026 pukul 21.00
Harga Minyak Dunia Diprediksi Tembus US$90 per Barel Pekan Depan
Media Indonesia · 16 Agustus 2026 pukul 16.30