Aksi Main Hakim Sendiri Kian Marak, Saat Emosi Kalahkan Hukum
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308707/original/078610900_1785167843-922723.jpg)
Fenomena main hakim sendiri terhadap pelaku kejahatan kian marak di Indonesia. Dua kasus terbaru terjadi di Bali dan Morowali, di mana pria yang dituduh mencuri ayam dan sepeda motor tewas dikeroyok massa. Sosiolog Bayu A. Yulianto menyebut beberapa faktor pemicu: budaya kekerasan yang masih kuat, anggapan bahwa kekerasan adalah cara sah menyelesaikan masalah, serta kesan pembiaran terhadap pelanggaran hukum ringan yang tidak ditangani aparat secara konkret. Lambatnya respons polisi terhadap laporan kejahatan membuat masyarakat frustrasi dan memilih bertindak sendiri. Media sosial juga memperparah situasi dengan menyebarkan rumor yang memicu kemarahan publik secara masif. Bayu mendorong aparat penegak hukum untuk lebih sigap merespons laporan agar aksi main hakim sendiri tidak meluas.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JPNN.com · 29 Juli 2026 pukul 14.31
Sambangi Korban Pengeroyokan Tertuduh ‘Pencuri Ayam’, Wayan Sudirta DPR Serahkan Sumbangan Pendidikan untuk Keysia Bersaudara
CNN Indonesia · 28 Juli 2026 pukul 14.50
Membaca Fenomena Vigilante, Main Hakim Sendiri di Bali hingga Morowali
Berita terkait
Bareskrim Tangkap 2 WN India Sindikat Penyelundupan Emas Ilegal
CNN Indonesia · 16 Agustus 2026 pukul 12.50
Dituduh Jadi Pelakor, Wanita di Sampang Dijambak dan Disiram Sambal
JPNN.com · 14 Agustus 2026 pukul 19.07
Polisi Dalami Pasal 300 KUHP di Kasus Tantangan Al-Qur'an demi Miras
CNN Indonesia · 12 Agustus 2026 pukul 18.34
Tantangan Penegakan Hukum di Tengah Masyarakat Teknokultur
SINDOnews · 6 Agustus 2026 pukul 08.25