Ancaman Houthi di Selat Bab al-Mandab: Jalur Minyak Utama dalam Bahaya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kelompok Houthi yang didukung Iran melakukan serangan darat besar di sekitar Selat Bab al-Mandab, jalur laut strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Selat sempit ini menjadi jalur kritis untuk ekspor minyak Arab Saudi dan perdagangan maritim antara Eropa dan Asia. Konflik ini telah menyebabkan penurunan signifikan lalu lintas kapal di Terusan Suez, dari 26.895 kapal pada 2023 turun menjadi 14.070 kapal pada 2025, dengan rata-rata harian hanya 40,8 kapal pada Januari-Agustus 2026.
Serangan Houthi juga menargetkan infrastruktur minyak Arab Saudi, melukai 73 warga sipil dan menyebabkan lonjakan harga minyak WTI hingga di atas US$100 per barel. Ekspor minyak Saudi dari pelabuhan Yanbu sempat mencapai 3,8 juta barel per hari, namun menurun menjadi 1,5 juta barel per hari setelah intensitas serangan meningkat. Houthi berhasil merebut kota pelabuhan strategis Mokha dan Mocha di pesisis Selat Bab al-Mandab, memperkuat posisinya dalam mengendalikan akses maritim.
Sebelum konflik, Bab al-Mandab menyumbang 12 persen dari pengiriman minyak dunia pada 2023. Dengan Iran dan proksinya (termasuk Hizbullah dan Hamas) mengoordinasikan serangan multi-front, ketegangan di wilayah ini semakin membesar. Pemerintahan AS di bawah Trump tengah menyusun strategi pasca-perang yang berfokus pada pembendungan Iran dan normalisasi hubungan Israel-Arab, sementara koalisi militer pimpinan Saudi bersiap untuk langkah operasional.
Bagikan
Berita terkait
Houthi Rebut Kota Pelabuhan Kunci di Laut Merah
Media Indonesia · 10 September 2026 pukul 21.21
Kemlu Ungkap Kondisi Terkini ABK WNI di Yaman yang Kapalnya Diserang
CNBC Indonesia · 20 Agustus 2026 pukul 20.50
Rudal Terjang Pasukan Arab Saudi, Houthi Tetapkan Batasan bagi Sekutu Baru Riyadh
SINDOnews · 8 Agustus 2026 pukul 06.03
Quiet Quitting: Mengapa Gen Z Memilih Bekerja Secukupnya di Tengah Tekanan Kerja
kumparan · 10 September 2026 pukul 23.00