Bagaimana Perubahan Iklim-Krisis Pangan Bisa Picu Konflik di Masa Depan?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Sistem pangan dunia semakin tertekan akibat perubahan iklim, konflik geopolitik, dan gangguan perdagangan, berpotensi memicu konflik di masa depan. Penelitian Climate-Driven Agricultural Decline Index (CADI) mengidentifikasi wilayah tropis seperti Afrika Utara, Nigeria, dan Sudan sebagai yang paling rentan. Fenomena El Nino dan cuaca ekstrem menghancang hasil panen, sementara perang di Ukraina dan Iran memicu kenaikan harga biji-bijian dan pupuk. Diproyeksikan, hampir separuh penduduk dunia akan tinggal di kawasan dengan produktivitas pertanian menurun dalam 25 tahun ke depan. Tekanan ini melemahkan pemerintahan, mendorong migrasi, dan memudahkan rekrutmen kelompok bersenjata, terutama di negara non-demokrasi yang institusinya lemah. Di Asia Selatan dan Sahel, ketergantungan pada impor pangan dan cepatnya pencairan gletser Himalaya meningkatkan risiko krisis kemanusiaan bagi sekitar 2 miliar orang. Studi ini menekankan pentingnya institusi yang kuat untuk mengelola perubahan akses sumber daya agar guncangan tidak berujung pada kekerasan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
SINDOnews · 7 September 2026 pukul 07.53
WMO Prediksi El Nino Tahun Ini Bikin Suhu Ekstrem Sulit Dikendalikan
Berita terkait
Ngeri! Kiamat Pangan Hantam Eropa, Kerugian Tembus Rp3.734 T
CNBC Indonesia · 20 Agustus 2026 pukul 20.03
Rekor, 5.000 Orang Meninggal Akibat Gelombang Panas di Spanyol
Detik.com · 1 September 2026 pukul 16.24
Kekeringan RI Bukan Hanya Imbas El Nino, BMKG Ungkap Faktor Lain
CNN Indonesia · 1 September 2026 pukul 07.40
Ilmuwan: Banjir Dahsyat di Nepal Dipicu Proses Puluhan Tahun
Detik.com · 30 Agustus 2026 pukul 15.00