Bos Wuling Blak-blakan Soal Tantangan TKDN Mobil Listrik di RI
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pengembangan industri kendaraan listrik nasional masih menghadapi kendala pada sisi rantai pasok komponen, khususnya dalam pencapaian Target Komponen Dalam Negeri (TKDN). Vice President PT SGMW Motor Indonesia (Wuling) Arif Pramadana menyatakan dukungan penuh terhadap regulasi pemerintah, namun implementasinya di lapangan masih menemui kesulitan. Menurutnya, industri komponen lokal belum sepenuhnya siap untuk mendukung target lokalisasi yang ditetapkan pemerintah.
Arif menjelaskan tiga tantangan utama yang dihadapi supplier lokal: kemampuan teknologi, konsistensi produksi, dan harga. Kendaraan listrik yang menggunakan teknologi baru membutuhkan kemampuan yang berbeda dibandingkan kendaraan konvensional, sehingga menambah kompleksitas tantangan ini. Selain itu, supplier juga mempertanyakan manfaat yang akan diterima ketika berhasil memenuhi persyaratan TKDN, karena insentif pemerintah belum secara langsung mendukung industri komponen.
Untuk mengatasi hal ini, Arif menyarankan agar pemerintah tidak hanya menekankan pada produsen kendaraan, tetapi juga memberikan dukungan yang berjenjang kepada ekosistem supplier mulai dari Tier 1 hingga Tier 3. Dengan dukungan yang tepat, industri komponen lokal dapat mengembangkan teknologi dan kapasitas produksinya agar dapat menjadi pemain yang kompetitif di pasar kendaraan listrik.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Warta Ekonomi · 21 September 2026 pukul 11.29
Astra Otoparts: Industri Komponen RI Siap Pasok Kendaraan Hybrid dan Listrik
Detik.com · 21 September 2026 pukul 07.55
Masalah Perizinan & TKDN RI Disorot Industri Otomotif Jepang
Berita terkait
Peta TKDN Mobil Listrik: Target 80%-Tak Cuma Baterai Buatan RI
CNBC Indonesia · 9 September 2026 pukul 17.10
RI Sudah Jadi Produsen Baterai EV? Moeldoko Ungkap Hal Tak Terduga
CNBC Indonesia · 21 September 2026 pukul 18.55
Komitmen Wuling Membangun Industri EV yang Membumi Berbuah Manis
JPNN.com · 19 September 2026 pukul 06.54
Menjadikan transisi rendah karbon sebagai mesin industrialisasi
ANTARA News · 15 September 2026 pukul 08.20