Jakarta · Selasa, 22 September 2026Cari
WargaKonoha

Bottleneck, Ketika Negara Menjadi Biaya Modal

Artikel ini membahas bagaimana keterlambatan dalam proses perizinan dan pembuatan kebijakan pemerintah berdampak pada biaya modal investasi. Bagi pemerintah, keterlambatan proyek mungkin terlihat sebagai masalah administratif seperti izin belum terbit, rekomendasi belum selesai, atau persoapan lahan belum terselesai. Namun, bagi pengusaha dan investor, setiap tahun keterlambatan berarti tambahan biaya modal dan penundaan pendapatan, sementara bunga dan biaya tetap tetap harus dibayar.

Realisasi investasi Indonesia pada 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, dan pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau 49,5% dari target tahunan Rp2.041,3 triliun. Meskipun angka ini menunjukkan investasi tetap tumbuh, yang lebih penting adalah seberapa cepat modal tersebut berubah menjadi kapasitas produktif. Investor tidak hanya melihat angka realisasi, tetapi juga kapan proyek mulai dibangun, beroperasi, dan menghasilkan arus kas.

Konsesi dan kredit bukan berarti kapasitas produksi sudah tersedia. Semua komitmen investasi baru memiliki nilai ekonomi ketika berubah menjadi kegiatan yang menghasilkan. Oleh karena itu, fokus kebijakan tidak hanya pada seberapa banyak uang masuk, tetapi juga pada seberapa cepat uang tersebut dikonversikan menjadi produksi nyata. Bottleneck ini menjadikan waktu sebagai komponen penting dalam biaya modal, yang secara tidak langsung memengaruhi daya tarik dan keberhasilan investasi di sektor riil.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait