Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Bukan Roket atau Peluru, "Hantu" Ini Bisa Bikin Iran Runtuh dari Dalam

Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat di tengah ancaman sanksi baru dari AS. Presiden Trump menjanjikan tekanan ekonomi "lebih keras" dan Menteri Keuangan Bessent mengancam langkah "belum pernah dilihat sebelumnya", meski detailnya belum diumumkan. Ekonomi Iran sudah rapuh sebelum konflik: inflasi tahunan 66% (Juli), inflasi pangan 128%, harga konsumen naik 87,9% year-on-year. Perang menambah kerusakan infrastruktur (pabrik, pembangkit listrik, transportasi), gangguan perdagangan, dan biaya rekonstruksi besar. Blokade laut AS memutus impor bensin; produksi harian 130 juta liter vs konsumsi 137 juta liter (defisit 7 juta liter). Nilai upah minimum turun dari US$105 ke US$86 sejak Maret. Warga mengurangi konsumsi daging, sewa naik 31%, harga rumah Teheran +50%. Banyak bisnis tutup, PHK massal, warga pindah ke daerah lebih murah. Pemerintah khawatir kesulitan ekonomi memicu demonstrasi massal seperti Januari lalu (ribuan tewas). Pengangkatan Hossein Taeb ke pimpinan Basij (milisi penindak protes) menandakan kewaspadaan tinggi. Presiden Pezeshkian akui masalah "berlipat ganda" saat pendapatan turun, penjualan minyak dan pajak menurun. Rezim menindak keras jurnalis, aktivis, mahasiswa demi stabilitas, tapi kritikus menilai hal ini memperlebar kesenjangan dengan rakyat.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait