Jakarta · Senin, 5 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Data Center Sedot Banyak Air dan Listrik, Ini Respons ESDM

Kementerian ESDM menanggapi keluhan masyarakat terkait dampak operasional data center yang berpotensi memicu kelangkaan air di sekitar kawasan operasional. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menegaskan bahwa pengembangan data center harus diselaraskan dengan pemetaan potensi pasokan listrik dan ketersediaan air setempat. Data center membutuhkan dua komponen pasokan utama: energi listrik berskala besar dan air yang memadai, sehingga penentuan lokasi dan perizinan tidak boleh mengabaikan kesiapan infrastruktur dasar ini. Yuliot juga menyatakan kemungkinan penggunaan PLTN sebagai opsi sumber energi bersih untuk mendukung beban listrik data center yang besar.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengajak investor untuk membangun data center di Indonesia, menekankan potensi energi yang sangat besar di berbagai wilayah. Potensi energi hijau terbesar termasuk PLTA Sungai Mamberamo di Papua dengan kapasitas 23 GW, dan Sungai Kayan di Kalimantan sekitar 12 GW. Indonesia juga memiliki sumber energi terbarukan lain seperti tenaga surya, panas bumi, dan angin di lebih dari 17.000 pulau.

Pemerintah berkomitmen mendukung investasi data center melalui program konkret seperti RUPTL 2025-2034 yang menargetkan penambahan pembangkit sebesar 69,5 GW dengan 70% dari EBT, serta program PLTS 100 GW yang ditargetkan rampai dalam tiga tahun. Komitmen ini juga mendukung target net zero emission pada 2050 hingga 2060.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait