Jakarta · Sabtu, 26 September 2026Cari
WargaKonoha

Derita Warga Negara Mata Uang Anjlok, Gaji Naik Tapi Ga Ngejar Inflasi

Perang di Sudan yang telah berlangsung sejak April 2023 semakin memburukkan kondisi perekonomi negara tersebut. Nilai tukar pound Sudan anjlok drastis, bahkan mencapai 7.500 pound per dolar AS di pasar gelap, sementara inflasi mencapai lebih dari 41% pada Juli 2026. Warga seperti Aisha, pedagang kopi di Port Sudan, melihat pendapatannya naik menjadi 70.000-100.000 pound per hari, namun kenaikan ini tidak mampu menyaingi lonjakan biaya hidup. Sebelum perang, 1.000 pound cukup untuk lima roti, kini hanya tiga. Harga gula naik dari 4.000 ke 7.000 pound per kg, dan daging sapi mencapai 68.000 pound per kg, jauh di atas kemampuan beli sehari-hari.

Konflik antara Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF) mengganggu produksi, perdagangan, dan ekspor, sekaligus mempersempit pasokan valuta asing. UNDP memperkirakan kerugian PDB Sudan mencapai US$6,4 miliar pada 2023, dengan lebih dari sepertiga bisnis tutup. Bank Dunia memproyeksikan kemiskinan ekstrem naik dari 48% pada 2023 ke 59% pada 2025. Menurut IPC, 19,5 juta orang atau 41% populasi menghadapi krisis pangan akut, sementara lebih dari 5 juta orang dalam kondisi kekurangan pangan ekstrem.

Dampaknya terasa langsung pada rumah tangga. Maryam Ibrahim, peneliti ekonomi dan mantan pekerja PBB, menjelaskan bahwa warga mulai mengurangi konsumsi makanan, menunda pengobatan, menarik anak dari sekolah, hingga meminjam uang untuk bertahan. Analis ekonomi Mohyeldin Mohamed menyarankan langkah jangka pendek seperti meningkatkan produksi pangan dalam negeri dan memperkuat sektor ekonomi produktif, sementara reformasi jangka panjang diperlukan untuk mengembalikan stabilitas perekonomi.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait