Downgrade: Jeda Kantor Pilih Nongkrong di Trotoar
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9365450/original/081507300_1791178531-Voice_of_Middle_Class.jpg)
Masyarakat kelas menengah Indonesia semakin banyak yang melakukan mekanisme 'downgrade'—mengurangi kualitas hidup—untuh menjaga kesejahteraan keuangan di tengah tekanan ekonomi. Fenomena ini termasuk beralih dari penggunaan BBM Pertamax ke Pertalite, mengganti bahan makanan mahal dengan alternatif lebih murah, hingga memilih nongkrong di trotoar ketimbang di kafe. Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa pergeseran ini bukan pilihan, melainkan keterpaksaan akibat ketidakmampuan menjangkau harga barang yang semakin tinggi. Tekanan daya beli ini dipengaruhi oleh pendapatan yang stagnan, penurunan upah riil, dan meningkatnya jumlah pekerja informal dengan pendapatan terbatas.
Data IMF menunjukkan bahwa kelas menengah Indonesia mengalami penyusutan sejak 2019. Pada 2024, jumlah kelas menengah turun dari 59,5 juta menjadi 47,9 juta orang, atau sebesar 5,4 poin persentase dari puncaknya pada 2018. Kontribusi kelas menengah terhadap konsumsi nasional juga menurun dari 45,6 persen pada 2017 menjadi 38,3 persen pada 2024. Faisal menambahkan, saldo rata-rata tabungan kelompok masyarakat di bawah Rp 100 juta turun dari Rp 3 juta sebelum pandemi menjadi sekitar Rp 1,5 juta. Penggunaan paylater dan pinjaman daring semakin meningkat sebagai respons terhadap kesulitan keuangan.
Peningkatan pengeluaran untuk makanan—yang kini mencapai 35–40 persen dari total pengeluaran—menjadi sinyal melemahnya daya beli, sejalan dengan Hukum Engel yang menyatakan bahwa semakin rendah pendapatan, semakin besar persentase pengeluaran untuk makanan. Perencana keuangan Safir Senduk menekankan pentingnya mengatur pengeluaran secara rasional, terutama saat kondisi ekonomi tidak stabil. Fenomena pekerja yang memilih nongkrong di trotoar saat istirahat kerja di Jakarta pun menjadi cerminan dari melemahnya daya beli masyarakat. Safir juga mendukung strategi produktif di tengah krisis, seperti memproduksi barang dan jasa kebutihan yang tetap dibutuhkan meski dalam kondisi ekonomi lesu.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Warta Ekonomi · 4 Oktober 2026 pukul 09.03
Inflasi 3,28%, Wamenkeu Pede Daya Beli Masyarakat Masih Terjaga
CNBC Indonesia · 5 Oktober 2026 pukul 15.18
Rupiah Ditutup Melemah 0,15%, Nilai Tukar Dolar AS Tembus Rp17.895
Warta Ekonomi · 5 Oktober 2026 pukul 14.38
Harga BBM Jadi Penyumbang Inflasi, Ini Kata Kementerian ESDM
CNBC Indonesia · 5 Oktober 2026 pukul 09.12
Rupih Melemah Lagi, Dolar AS Kini Naik Jadi Rp 17.950
Berita terkait
Downgrade, Saat Masyarakat Cari Celah untuk Bertahan Hidup
Liputan6.com · 5 Oktober 2026 pukul 09.06
Inflasi Ada di Angka 3,28 %, Wamenkeu Juda Agung Sebut Belum Berdampak ke Daya Beli
JawaPos · 1 Oktober 2026 pukul 19.45
Tifatul Soroti Anomali Daya Beli di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Detik.com · 2 September 2026 pukul 10.38
Bocoran Kondisi Ekonomi RI Memasuki Kuartal IV-2026
CNBC Indonesia · 5 Oktober 2026 pukul 07.25