Ekonom UGM: Vendor Infrastruktur 5G Harus Bebas Tekanan Asing
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pembangunan jaringan 5G di Indonesia memasuki tahap baru setelah Kementerian Komunikasi dan Digital menetapkan pemenang lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Tahap selanjutnya adalah penunjukan vendor penyedia infrastruktur oleh operator seluler.
Muncul laporan tekanan dari Amerika Serikat agar operator memilih vendor seperti Ericsson dan Nokia melalui instrumen Agreement on Reciprocal Trade (ART). Ekonom Universitas Gadjah Mada, Rimawan Pradiptyo, menilai lelang adalah cara efisien jika bebas dari intervensi. Campur tangan asing dapat menghilangkan prinsip efisiensi ekonomi dalam lelang terbuka.
Rimawan menegaskan bahwa pemilihan vendor harus didasarkan pada kualitas layanan, harga kompetitif, dan kemampuan teknis, bukan kepentingan geopolitik. Intervensi dapat meningkatkan biaya investasi dan berpotensi dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan tarif layanan data.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 31 Juli 2026 pukul 18.15
Prabowo Ingatkan Kadin, Semua Negara Gagal Disebabkan Elitnya Ribut
Detik.com · 31 Juli 2026 pukul 17.54
Prabowo: Semua Negara yang Gagal, Elitenya Ribut Terus
CNN Indonesia · 31 Juli 2026 pukul 17.20
Prabowo Singgung Kutukan Negara Kaya Sumber Daya Alam
Detik.com · 31 Juli 2026 pukul 17.00
Apakah 5G Boros Kuota dan Baterai, Ini Faktor yang Berpengaruh
Berita terkait
Merdeka in the Age of Machines
Warta Ekonomi · 16 Agustus 2026 pukul 07.35
Amerika Punya Musuh Baru, Trump Tidak Kasih Ampun
CNBC Indonesia · 27 Juli 2026 pukul 15.50
Bamsoet Puji Capaian Pemerintahan Prabowo dari Swasembada Pangan-Reformasi Besar BUMN
JPNN.com · 15 Agustus 2026 pukul 09.22
RI Contoh India Ajak Swasta Manfaatkan Aset BUMN yang Tak Maksimal
kumparan · 15 Agustus 2026 pukul 08.33