Fenomena Lipstick Effect: Sinyal Bahaya Ekonomi RI?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA menjelaskan fenomena lipstick effect, yaitu kecenderungan konsumen tetap belanja barang kecil terjangkau seperti kosmetik dan perawatan diri meski kondisi keuangan tertekan. Fenomena ini awalnya populer pada 2001 oleh Leonard Lauder dari Estée Lauder, dan kini semakin terlihat di Indonesia.
Laporan Survei Konsumen Bank Indonesia (Juni 2026) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 123,4, menunjukkan optimisme tetapi dengan pergeseran alokasi pengeluaran. Masyarakat menunda pembelian aset besar seperti rumah atau kendaraan, namun tetap menyalurkan pengeluaran pada produk personal care dan hiburan digital.
Data BPS (2025) memperlihatkan konsumsi rumah tangga masih mendominasi PDB dengan kontribusi 53,08 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat tidak menghentikan belanja secara total, melainkan mengalihkan preferensi ke produk terjangkau yang memberikan kepuasan emosional instan.
Bagikan
Berita terkait
Bedah Upaya Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi Hingga Akhir Tahun
CNBC Indonesia · 12 Agustus 2026 pukul 20.59
Inflasi Tinggi, Warga AS Rela Kuras Tabungan Demi Liburan Musim Gugur
Liputan6.com · 21 September 2026 pukul 20.30
Kenapa Masyarakat Pilih Belanja Kebutuhan secara Eceran? Ekonom Ungkap Alasannya
kumparan · 13 September 2026 pukul 19.00
Ekonom: Pemulihan Sentimen Masyarakat masih Sangat Tipis
Media Indonesia · 10 September 2026 pukul 15.27