Genjot Hilirasasi, Negara Ini Setop Ekspor Konsentrat Tembaga dan Kobalt
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Republik Demokratik Kongo (DRC) secara resmi melarang ekspor konsentrat tembaga dan kobalt mulai 29 Juni 2026 untuk memaksa pemrosesan di dalam negeri. Kebijakan ditandatangani tiga menteri dan diberlakukan secepatnya, meski pengecualian satu tahun masih memungkinkan untuk alasan strategis. Langkah ini mendorong harga tembaga LME naik 1,8% ke US$14.369,50 per metrik ton, tertinggi sejak Januari. DRC, pemasok kobalt terbesar dunia, juga memperkenalkan rezim pajak lebih ketat dengan masa transisi tiga bulan untuk produk sampingan, termasuk mineral jejak dengan koefisien penilaian 55%.
Data kuartal I 2026 menunjukkan DRC mengekspor 696.725 ton katoda tembaga (sudah olahan) versus hanya 53.926 ton konsentrat (18.863 ton logam), serta 51.940 ton hidroksida kobalt (17.054 ton logam). Larangan serupa pernah diberlakukan 2013, 2019, dan 2023 dengan pengecualian karena kapasitas peleburan terbatas; aturan baru mencabut kebijakan 2023 sepenuhnya.
Analis menilai dampak terbatas karena sebagian besar tembaga dan kobalt Kongo sudah disuling domestik. Kompleks Kamoa-Kakula (Ivanhoe Mines, Zijin Mining, pemerintah) diprediksi paling terdampak karena masih mengekspor konsentrat di bawah pengecualian lama. Pihak terkait belum mengeluarkan tanggapan resmi.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JPNN.com · 7 Agustus 2026 pukul 20.02
Kejar Nilai Tambah Ekonomi, Pemerintah Haramkan Ekspor Mentah Bauksit-Tembaga
Berita terkait
Guncangan Baru Dunia, Negara Ini Larang Ekspor Tembaga-Kobalt
CNBC Indonesia · 6 Agustus 2026 pukul 20.40
Bos Freeport Buka-bukaan Progres Pengembangan Tambang Bawah Tanah Baru
CNBC Indonesia · 10 Agustus 2026 pukul 16.20
Ekspor Nikel RI di 2026 Diramal Hilang 5 Juta Ton Gegara Hal Ini
CNBC Indonesia · 6 Agustus 2026 pukul 15.55
Pemerintah akan Perjelas Larangan Ekspor Logam Tanah Jarang
Liputan6.com · 3 Agustus 2026 pukul 15.10