Jakarta · Senin, 24 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Hari H Hukuman Ekonomi AS Dimulai, Iran Janjikan Hal Lebih Ngeri

Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru dalam konflik dengan Iran dengan menggeser fokus dari medan militer ke sektor ekonomi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan mengumumkan paket sanksi baru pada Senin (24/8/2026), yang ia sebut sebagai 'serangan finansial tunggal terbesar' yang pernah dikerahkan terhadap Iran. Sanksi ini tidak hanya menargetkan Iran, tetapi juga negara-negara yang mempertahankan hubungan dagang dan keuangan dengan Teheran. Washington juga mendesak China untuk bekerja sama, mengingat Beijing menjadi mitra dagang minyak penting yang secara historis menerima sekitar setengah impor minyaknya dari kawasan Teluk. Namun, China menolak sanksi, menegaskan bahwa pendekatan diplomatik lebih efektif.

Iran merespons ancaman ekonomi AS dengan peringatan keras. Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa Teheran siap menghentikan seluruh ekspor minyak dari kawasan Teluk jika tekanan berlanjut. Ancaman ini mencakup pemblokade Selat Hormuz, jalur strategis yang krusial bagi perdagangan minyak global. Iran masih memiliki kemampuan militer untuk mengancam kapal tanker yang melintasi selat tersebut.

Situasi ini memperparah kondisi yang sudah sulit bagi Iran. Sebelum konflik militer, perekonomian Iran sudah mengalami inflasi tinggi, pelemahan mata uang, dan kekurangan energi akibat sanksi internasional yang berlangsung sejak 1979. Konflik militer yang terjadi sebelumnya semakin memburuk dengan kerusakan infrastruktur, gangguan perdagangan, dan penurunan produksi. Pejabat Iran sendiri mengakui bahwa sanksi ekonomi tambahan dapat memperburuk kondisi masyarakat dan mengikis legitimasi pemerintah.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait