Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Iran dan Venezuela Panas Buntut Komentari Ancaman AS

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran bukan Venezuela dan menolak tunduk terhadap tekanan militer Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan Mehr News Agency (20/7/2026), Araghchi menjelaskan bahwa Iran memiliki sistem kekuasaan "mosaik" yang terdesentralisasi, sehingga menyingkirkan satu pemimpin tidak akan menyebabkan keruntuhan negara. Ia membandingkan kondisi itu dengan Venezuela, di mana AS berhasil memaksakan pergantian rezim dengan menangkap Presiden Nicolas Maduro dalam operasi militer pada Januari lalu. Araghchi juga menceritakan ancaman nyata yang dialami dirinya dan negosiator Iran selama perundingan nuklir dengan AS, namun menegaskan bahwa Iran tetap teguh dan menolak segala bentuk ancaman maupun suap.

Komentar Araghchi tersebut memicu kecaman dari Venezuela. Pemerintah Venezuela memanggil Duta Besar Iran Ali Chegini pada 28 Juli untuk menerima nota protes resmi atas pernyataan yang dianggap "merendahkan dan tidak pantas" terhadap lembaga serta otoritas Venezuela. Hubungan kedua negara sebelumnya sangat erat sejak era Presiden Hugo Chavez pada 1999, dengan kerja sama di bidang energi, pertambangan, dan kesehatan. Iran bahkan pernah mengirimkan 1,5 juta barel bensin pada 2020 dan jutaan dosis vaksin pada 2025 ketika Venezuela mengalami krisis. Namun, pemerintahan baru Venezuela yang terbentuk setelah jatuhnya Maduro diperkirakan akan mengubah pendekatan terhadap Iran demi mendekat ke Washington.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait