Krisis Ekonomi Makin Parah, Menteri Minyak Pilih Mundur
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengundurkan diri di tengah memburuknya krisis ekonomi yang ditandai anjloknya pendapatan minyak, inflasi tinggi, dan pelemahan tajam mata uang rial. Pengunduran diri terjadi beberapa hari setelah muncul tuduhan bahwa lembaga perantara yang digunakan Iran untuk menjual minyak ke luar negeri menunggak hampir US$2 miliar kepada National Iranian Oil Company (NIOC). Presiden Iran Masoud Pezeshkian menerima pengunduran diri tersebut dengan alasan pribadi.
Krisis ekonomi Iran semakin dalam setelah rial melemah lebih dari 10% dalam sebulan terakhir. Dolar kini diperdagangkan sekitar 269.000 toman, atau 2,69 juta rial, per US$1 dan telah menguat 12% sejak 9 September. Inflasi pangan mencapai 130% dan inflasi secara keseluruhan dilaporkan mencapai 85%. Perekonomian Iran juga mengalami kontraksi sekitar 10% pada tiga bulan pertama tahun ini.
Tekanan terhadap sektor minyak memicu penyelidikan atas dugaan buruknya pengelolaan pendapatan ekspor. Surat kabar Farhikhtegan melaporkan tiga individu yang memperoleh kontrak minyak diduga masing-masing berutang ratusan juta dolar. Dampak krisis ini terasa langsung pada masyarakat, termasuk para perawat yang memilih tidak bekerja karena pendapatan tidak sebanding dengan biaya hidup. Pemerintah berupaya meredam tekanan dengan membekukan harga 12 kebutuhan pokok selama enam bulan dan mempertimbangkan kenaikan upah sektor publik.
Bagikan
Berita terkait
Kaya Minyak, Irak Malah Krisis: Rp 1.078 T Pendapatan Hilang
Detik.com · 28 September 2026 pukul 16.19
Siaga Kiamat Minyak, Perang Arab Makin Ngeri-Saudi Tutup Pipa 1.200 Km
CNBC Indonesia · 14 September 2026 pukul 15.40
Krisis Ekonomi Iran: Hidup Layak Jadi Mimpi Buruk di Tengah Sanksi dan Perang
Media Indonesia · 14 September 2026 pukul 14.30
Krisis Ganda Iran: Sanksi Baru AS di Tengah Ekonomi Sekarat
Liputan6.com · 2 September 2026 pukul 08.47