Mengapa Arab Saudi Mengubah Perannya dalam Perang Iran? Ini Analisisnya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Selama lima bulan, Arab Saudi menjaga jarak dari konflik langsung dalam perang AS melawan Iran, meskipun menjadi target serangan drone dan rudal. Kerajaan membuka jalur komunikasi dengan Teheran dan mendorong diplomasi melalui Oman, Qatar, dan Pakistan. Namun, sejak akhir Juli 2026, sikap Riyadh berubah drastis. Arab Saudi bergabung dengan AS dalam serangan terhadap milisi yang didukung Iran di Irak, setelah gelombang serangan drone menghantam wilayahnya. Riyadh juga mendukung pembentukan koalisi untuk melindungi pelayaran di Laut Merah akibat pemblokade Houthi Yaman di Selat Bab al-Mandab. Pada minggu yang sama, Arab Saudi berhasil meyakinkan Presiden Trump untuk membatalkan rencana serangan baru terhadap Iran dan kembali ke jalur diplomasi terkait Selat Hormuz.
Perubahan pendekatan ini mencerminkan evolusi doktrin pertahanan Arab Saudi. Sejak Maret 2026, pesawat tempur Saudi melakukan serangan balasan di wilayah Iran yang tidak diumumkan secara resmi, diikuti dengan upaya cepat untuk kembali ke diplomasi. Pola ini berulang sepanjang musim panas: penggunaan militer selektif dan proporsional, selalu diikuti langkah deeskalasi. Serangan terbuka di Irak menandai pergeseran strategis - Riyadh tidak lagi hanya menangkal serangan, tetapi menyerang pusat komando dan infrastruktur peluncuran milisi Iran di Irak. Menurut ahli keamanan Andreas Krieg dari King's College London, langkah ini menunjukkan perubahan nyata dalam doktrin pertahanan Saudi yang semakin ofensif namun tetap defensif.
Para ahli menekankan bahwa pendekatan dual ini tidak berarti Arab Saudi meninggalkan diplomasi. Giorgio Cafiero dari Gulf State Analytics menjelaskan bahwa kebijakan 'pengekangan maksimum' sebelumnya tidak efektif lagi. Operasi militer dan diplomasi dianggap instrumen yang saling melengkapi. Riyadh kini memperluas instrumen pertahanan termasuk operasi intelijen dan serangan hukuman skala terbatas sebagai pelengkap sistem pertahanan udara, berbeda dengan strategi ekspedisioner besar pada perang Yaman sebelumnya.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 7 Agustus 2026 pukul 17.53
Trump Yakin Perang Lawan Iran Akan Segera Berakhir
CNBC Indonesia · 7 Agustus 2026 pukul 05.39
AS Kehilangan Pegangan di Perang Iran, Trump Maju Kena-Mundur Kena
Detik.com · 6 Agustus 2026 pukul 10.13
Trump Akui Lebih Pilih Deal dengan Iran: Saya Tak Ingin Bunuh Orang
Detik.com · 8 Agustus 2026 pukul 13.53
Jenderal Top AS Diam-diam Cari Cara untuk Akhiri Perang Iran
Berita terkait
2 Opsi Trump untuk Iran: Membiarkan Ekonomi Terpuruk atau Menyerang
Detik.com · 12 Agustus 2026 pukul 15.58
Iran Tuding Arab Saudi Terlalu Bergantung dengan Kekuatan Asing
SINDOnews · 8 Agustus 2026 pukul 16.17
Netanyahu Ancam Siap Serang Iran Sendirian
SINDOnews · 6 Agustus 2026 pukul 18.10
Iran Bantah Minta AS Setop Serangan, Tegaskan Tak Ada Deal Selat Hormuz
Detik.com · 3 Agustus 2026 pukul 10.36