Mengenal Gas SO2 dari Gunung Berapi, Ini Bahayanya bagi Kesehatan dan Lingkungan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Gas Sulfur Dioksida (SO2) adalah gas vulkanik yang dihasilkan dari pemanasan magma di bawah permukaan bumi. Gas ini tidak berwarna namun memiliki bau tajam seperti korek api. SO2 menjadi parameter penting yang dipantau vulkanolog untuk menilai aktivitas gunung berapi. Gas ini mudah larut dalam air dan bereaksi dengan cairan di saluran napas, menyebabkan iritasi, batuk, sesak, dan pada penderita asma dapat memicu serangan berbahaya. Paparan tinggi dapat menyebabkan luka bakar kimiawi pada kulit dan kulit yang lembap.
Paparan kronis terhadap SO2 dapat menurunkan fungsi paru-paru secara permanen dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran napas. Di area dekat kawah, konsentrasi tinggi SO2 berbahaya dapat menyebabkan edema paru yang fatal. Gas ini juga berdampak pada lingkungan karena bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat, berpotensi menyebabkan hujan asam dan kabut vulkanik (vog). Selain itu, SO2 dapat memengaruhi iklim dengan membentuk aerosol sulfat yang mengurangi sinar matahari yang mencapai permukaan bumi.
Gas SO2 cenderung berkumpul di daerah rendah seperti lembah atau cekungan di sekitar gunung berapi. Langkah mitigasi meliputi menghindari area yang terdampak, mengikuti instruksi otoritas vulkanik, dan waspada terhadap peringatan aktivitas vulkanik. Dengan mitigasi yang tepat, risiko kesehatan akibat paparan SO2 dapat diminimalisir secara signifikan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Warta Ekonomi · 10 September 2026 pukul 18.25
Saat Asap Mencekik Paru-Paru dan Fiskal Daerah: Menakar Ongkos Mahal Krisis Karhutla 2026
Berita terkait
Mengapa Gas SO2 dari Gunung Berapi Berbahaya? Ini Penjelasannya
Media Indonesia · 9 September 2026 pukul 21.17
Dampak Karhutla bagi Perempuan dan Anak: Beban Ganda di Balik Kabut Asap
Media Indonesia · 10 September 2026 pukul 15.47
Apa Itu Gas SO2 yang Menyebar Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau?
CNN Indonesia · 8 September 2026 pukul 13.53
Hujan Asam Pasca-Karhutla: Ketika Bencana Tak Benar-Benar Selesai saat Asap Mereda
SINDOnews · 7 September 2026 pukul 14.36