Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Menjaga Optimisme di Tengah Risiko Geopolitik dan Geoekonomi

Perekonomian Indonesia tumbuh stabil dengan rata-rata 5,12% per tahun dari 2022 hingga 2025, didukung kinerja perbankan yang positif, termasuk pertumbuhan kredit rata-rata 10,48% dan peningkatan dana pihak ketiga (DPK). Namun, tantangan signifikan muncul dari risiko geopolitik global, seperti konflik AS-Iran yang mengganggu Selat Hormuz dan perang tarif AS dengan tarif 10% terhadap produk Indonesia. Di dalam negeri, terjadi pelemahan ekonomi yang ditandai gelombang PHK masif, dengan data Kemenaker mencatat 88.519 orang terkena PHK pada 2025 dan 43.000 pada semester pertama 2026. Pertumbuhan ekonomi di atas 5% tidak diikuti penciptaan lapangan kerja memadai, atau jobless growth, sementara efisiensi investasi masih rendah dengan ICOR Indonesia sekitar 5,8-6,5, lebih tinggi dari sebagian negara ASEAN. Untuk menghadapi tekanan ini, Bank Indonesia (BI) melonggarkan kebijakan makroprudensial, termasuk memperbesar insentif likuiditas, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) fokus pada penguatan ketahanan sektor keuangan. Pemerintah juga menyediakan paket stimulus Rp26,34 triliun pada semester kedua 2026 guna memperkuat daya beli dan menjaga stabilitas ekonomi.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait