Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Membaca Deflasi, Menakar Respons BI

Indonesia mencatat deflasi bulanan sebesar 0,14 persen pada Juli 2026, dipicu oleh melimpahnya pasokan hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit akibat musim panen, serta penurunan harga emas perhiasan. Deflasi ini bersumber dari perbaikan sisi pasokan, bukan melemahnya permintaan, sehingga tidak mencerminkan pelemahan ekonomi. Inflasi tahunan tetap berada di 2,88 perselisihan, dalam kisaran sasaran Bank Indonesia (BI).

Kondisi ini memberi ruang bagi BI untuk mempertahankan kebijakan moneter yang suportif. Inflasi inti tetap stabil dan ekspektasi inflasi terkendali, sehingga fokus kebihlangan dapat beralih dari pengendalian inflasi ke dukungan pertumbuhan. BI perlu tetap waspada terhadap risiko musiman dari deflasi panen dan tekanan imported inflation akibat ketegangan geopolitik.

BI juga perlu mempertahankan fleksibilitas kebijakan dengan memperhatikan stabilitas nilai tukar rupiah, arus modal global, dan kebijakan moneter bank sentral utama. Koordinasi dengan pemerintah melalui TPIP dan TPID serta investasi pada infrastruktur logistik dan distribusi pangan diperlukan untuk menjaga stabilitas harga secara berkelanjutan. Stabilitas harga justru menjadi prasyarat agar mesin pertumbuhan ekonomi tetap berjalan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait