Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Nasionalisme Merah Putih di Tengah Badai Bencana Alam

Artikel ini membahas nasionalisme dalam konteks bencana alam, dengan fokus pada gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026. Nasionalisme diartikan tidak hanya melalui simbol seperti bendera atau lagu kebangsaan, tetapi juga melalui aksi nyata saat masyarakat membutuhkan pertolongan. Gempa tersebut menjadi ujian bagi kemampuan negara dalam memberikan perlindungan dan layanan dasar bagi warganya.

Pemerintah Indonesia merespons dengan cepat di bawah perintah Presiden Prabowo Subianto, mengerahkan tim gabungan yang mencakup BNPB, Basarnas, kementerian terkait, dan BUMN seperti PLN, Telkom, Pertamina, serta Bulog. Sebanyak 50.000 paket sembako dari Bantuan Presiden dikirim ke Maumere untuk membantu korban. Koordinasi antarlembaga dianggap krusial untuk memastikan bantuan tepat waktu dan memulihkan layanan penting seperti listrik, komunikasi, dan kesehatan.

Nasionalisme kemudian ditekankan sebagai gotong royong dan kehadiran negara bagi rakyat saat krisis. Setelah keadaan darurat, pemulihan jangka panjang seperti pembangunan kembali rumah, fasilitas umum, dan penguatan ketahanan bencana menjadi prioritas. Artikel menyimpulkan bahwa nasionalisme modern terwujud dalam persatuan dan kerja sama antara masyarakat serta pemerintah untuk saling menjaga, terutama ketika menghadapi bencana.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait