Jakarta · Kamis, 20 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Nutri Level dan Literasi Pangan Sehat

Masyarakat Indonesia cenderung lebih memperhatikan harga ketika membeli produk pangan kemasan, berbeda dengan negara maju yang lebih fokus pada kandungan kalori. Hal ini mencerminkan rendahnya literasi gizi di Indonesia, meskipun kasus kelebihan berat badan dan penyakit tidak menular seperti diabetes serta obesitas terus meningkat. Untuk meningkatkan kesadaran konsumen, pemerintah Indonesia telah memperkenalkan sistem pelabelan Nutri Level pada kemasan makanan dan minuman. Sistem ini mengelompokkan produk ke dalam empat level (A hingga D) berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL). Level A (hijau tua) menunjukkan produk tersehat, sementara Level D (merah) mengindikasikan produk dengan kandungan GGL tinggi yang berpotensi melebihi batas aman WHO. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa pelabelan ini bertujuan untuk mengurangi angka penyakit tidak menular dengan mendorong perilaku konsumsi yang lebih sehat.

Nutri Level juga bertindak sebagai sarana edukasi bagi konsumen agar tidak tertipu oleh klaim gizi palsu pada kemasan. Selain itu, sistem ini diharapkan dapat menjadi alat pemilihan yang efisien dibandingkan kebijakan cukai pada minuman berpemanis. Negara seperti Singapura telah berhasil menerapkan sistem serupa bernama Nutri-Grade, yang terbukti meningkatkan kesadaran konsumen dalam memilih produk sehat. Namun, pemahaman konsumen terhadap komposisi gizi masih perlu ditingkatkan melalui edukasi di sekolah dan kampanye di berbagai media. Dengan dukungan literasi gizi yang baik, masyarakat dapat lebih bijak dalam memilih makanan sehat sehari-hari.

Beberapa faktor gizi penting yang perlu diwaspadai adalah asam lemak trans (TFA) yang terdapat dalam margarin tertentu, kolesterol tinggi yang berisiko menyebabkan serangan jantung, serta konsumsi garam dan gula berlebihan. Konsumsi garam melebihi 5 gram per hari dan gula melebihi 50 gram per orang per hari dapat meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung, dan stroke. Edukasi gizi melalui sistem Nutri Level diharapkan dapat menjadi langkah awal yang efektif untuk mengubah pola makan masyarakat menuju kebiasaan konsumsi rendah GGL.

Berita terkait