Pakar: Gas Bumi Adalah Bahan Baku Ekonomi, bukan Sekadar Komoditas
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Gas bumi seharusnya tidak hanya dilihat sebagai komoditas energi untuk diperjualbelikan, tetapi juga sebagai bahan baku strategis yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sampe Purba, mantan Kepala Divisi Monetisasi Gas SKK Migas, menekankan bahwa manfaat gas dapat menjangkau berbagai sektor apabila tersedia dalam volume yang memadai dan harga yang kompetitif. Gas berperan dalam memperluas akses energi bagi masyarakat melalui jaringan gas kota (jargas) dan sebagai bahan bakar kendaraan dengan menggunakan compressed natural gas (CNG). Di sektor industri, gas menjadi komponen krusial dalam berbagai aktivitas manufaktur seperti industri pupuk, petrokimia, keramik, kaca, baja, pengolahan makanan, tekstil, pulp dan kertas, hingga pembangkit listrik mandiri (captive power). Gas juga berfungsi sebagai feedstock untuk mengolah bahan mentah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Dalam sistem kelistrikan, gas diproyeksikan memiliki kapasitas pembangkit listrik sebesar sekitar 10,3 GW menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Gas dianggap penting untuk mendukung transisi energi sebagai pelengkap bagi pembangkit energi terbarukan yang produksinya bergantung pada kondisi alam. Namun, Sampe mengingatkan agar kebijakan gas nasional tetap mempertimbangkan keekonomian proyek, penetapan harga, kesiapan infrastruktur, dan agenda transisi energi. Optimalisasi sumber daya gas Indonesia membutuhkan konsep pengembangan terbaik yang menyeimbangkan kebutuhan daerah, kelayakan teknis, kebijakan, keekonomian, dan manfaat sosial-ekonomi.
Proyek-proyek gas strategis seperti pengembangan gas South Andaman oleh Mubadala Energy dan proyek gas North Hub dengan investasi US$11,8 miliar serta proyeksi produksi 1.000 MMSFD gas dan 80.000 barel kondensat per hari, diharapkan menciptakan nilai jangka panjang bagi Aceh dan Indonesia. Proyek-proyek ini mendukung ketahanan energi, pertumbuhan industri, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan negara. Pemerintah juga menekankan pentingnya mengamankan pasokan energi di berbagai wilayah, termasuk Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, serta memastikan prioritas penggunaan minyak mentah untuk kebutuhan kilang dalam negeri.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 8 September 2026 pukul 15.40
Tak Lagi Impor Solar, Devisa RI Meningkat Rp 170 Triliun Tahun Ini
CNBC Indonesia · 8 September 2026 pukul 14.02
Tembaga Disebut Jadi Babak Baru Garapan Sumber Daya Mineral RI
SINDOnews · 8 September 2026 pukul 12.28
Rusia: Uni Eropa Lakukan Harakiri dan Bangga Nyatakan Rakyatnya Harus Menderita
JPNN.com · 8 September 2026 pukul 10.45
Dukung Pergerakan Ekonomi, Pertamina Jaga Kecukupan Energi di Wilayah Timur Indonesia
Berita terkait
Ternyata RI Masih Ekspor Gas, Segini Jumlahnya
CNBC Indonesia · 27 Agustus 2026 pukul 14.15
Wakil Ketua MPR: Gas Bumi Pegang Peran Krusial sebagai Jembatan Transisi Energi
JawaPos · 22 Agustus 2026 pukul 14.45
Rencana Pemangkasan Insentif Motor Listrik Dinilai Menjaga Ketahanan Fiskal
JPNN.com · 22 Agustus 2026 pukul 07.00
Waka MPR Ibas Dorong Target dan Strategi Indonesia Menuju 100 GW
JPNN.com · 21 Agustus 2026 pukul 16.35