Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Peredaran Narkoba di Kampung Bahari Sulit Diberantas Meski Sering Digerebek

Kampung Bahari di Tanjung Priok, Jakarta Utara, dikenal sebagai kawasan sentral peredaran narkoba sejak lama. Lokasinya yang strategis dekat pelabuhan membuatnya menjadi titik masuk utama untuk distribusi narkoba dari berbagai daerah seperti Sumatera dan Cianjur. Menurut penelitian Aldrin Hutabarat (2024), jaringan kriminal di sini saling terkait melalui pertemanan, kekerabatan, dan komunitas, sementara perlindungan dari oknum aparat dan tokoh masyarakat memperumit masalah ini. Kampung ini memenuhi 7 kriteria kampung narkoba: keberadaan pengedar, pemakai, kasus kekerasan, bukti narkoba, pintu masuk barang haram, dan kurir, didukung oleh kemiskinan tinggi, minimnya fasilitas umum, dan penegakan hukum yang lemah.

Sejak 2013, polisi telah melakukan belasan operasi pembersihan di Kampung Bahari. Pada November 2013, dua warga ditangkap karena mendistribusikan ganja ke anak buah kapal dan pekerja harian. Operasi besar pada November 2014 berhasil mengamankan 38 orang yang positif narkoba dari sekitar 300 kasus di Jakarta Utara. Pada Januari 2016, polisi menyita 50 gram sabu dan 16 bungkus kecil, serta puluhan senjata tajam. Pada Mei 2019, bandar narkotika Hendriana Salomonia ditangkap dengan ribuan pil ekstasi. Operasi Desember 2021 berhasil mengamankan 27 orang dan menyita 31 paket ganja, 12 paket sabu, dan senjata tajam.

Operasi terbaru pada Juli 2024 mengungkap 'apotek' narkoba lengkap dengan kasur lipat, AC, dan CCTV yang digunakan untuk konsumsi narkoba. Di sana ditemukan 103 gram sabu besar dan 26 paket kecil, serta alat isap bong yang disewakan. Pada November 2025, 125 personel BNN dan Brimob menggerebek kos-kosan oranye dan lapak di tepi rel yang diduga menjadi lokasi transaksi sabu. Operasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah untuk membersihkan kawasan yang telah lama menjadi sarang narkoba.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait