Prabowo Bilang RI Kehilangan Rp15.000 T Gegara Praktik Kotor 34 Tahun
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia kehilangan Rp15.000 triliun (US$908 miliar) selama 34 tahun (1991-2024) akibat praktik under-invoicing dan transfer pricing. Praktik ini terjadi ketika eksportir melaporkan volume barang yang lebih rendah dari sebenarnya, seperti mengekspor 100 ton namun hanya dilaporkan 50 ton. Dalam pertemuan dengan MPR, DPR, dan Dewan Ekonomi Nasional pada Mei 2026, Prabowo menyampaikan data kebocoran ini dan mendesak pemerintah menutup luka keuangan negara. Pemerintah kemudian merancang kebijakan pengendalian ekspor komoditas strategis melalui satu pintu di Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) untuk meminimalisir kebocoran nilai ekspor.
Bagikan
Berita terkait
Siap-Siap! 1 Januari 2027 Komoditas Ekspor Lewat DSI Bakal Ditambah
CNBC Indonesia · 17 September 2026 pukul 11.15
Sarjito Ingin Bursa Komoditas Jadi Senjata Tekan Kebocoran Pajak
CNN Indonesia · 10 September 2026 pukul 13.11
PT Toba Pulp Lestari Jadi Tersangka Korupsi Transfer Pricing, Kerugian Negara Rp 2 Triliun
JawaPos · 7 September 2026 pukul 21.30
Kasus Transfer Pricing PT Toba Pulp Lestari Merugikan Negara Rp 2 Triliun
JPNN.com · 7 September 2026 pukul 19.49