Pulih Percaya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
.jpeg)
Artikel membandingkan pelemahan kurs rupiah saat ini dengan krisis moneter 1997-1998. Penulis menyatakan krisis 1997-1998 jauh lebih berat, di mana rupiah anjlok dari Rp 2.400 per USD pada 1996 menjadi Rp 16.000 per USD pada 1997-1998, disertai krisis politik dan kerusuhan sosial. Sementara pelemahan saat ini relatif kecil, yakni dari Rp 16.000 ke Rp 18.000 per USD.
Kondisi ekonomi saat ini dinilai masih lebih stabil. Inflasi terkendali, kebutuhan pangan berlebih, dan defisit APBN di bawah tiga persen. Berbeda dengan krisis 1997-1998, saat ini tidak terjadi gejolak sosial maupun politik yang signifikan. Namun rupiah sudah melemah mendekati dua tahun, sepanjang masa jabatan Presiden Prabowo, padahal setelah krisis 1998 rupiah mampu menguat dari Rp 16.000 ke Rp 8.000 per USD dalam waktu kurang dari setahun. Penulis menyinggung bahwa ada sejumlah pengeluaran negara yang disembunyikan, termasuk restitusi untuk DMO batu bara.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 30 Juli 2026 pukul 13.10
Restitusi dan Belanja Subsidi Diproyeksi Bebani Defisit APBN di 2026
CNBC Indonesia · 29 Juli 2026 pukul 21.10
Ekonom Bank Asing Ungkap Kapan Dolar AS Bisa Balik ke Rp17.000/US$
Berita terkait
Prabowo Jamin Data Sensus Ekonomi 2026 Bukan Untuk Mengejar Kekayaan Pribadi
Warta Ekonomi · 14 Agustus 2026 pukul 18.53
Pamer Rating S&P dan LIanhe Ratings, Prabowo: Ini Pengakuan Dunia
VOI · 14 Agustus 2026 pukul 17.35
Prabowo Minta Rakyat-Anggota DPR Isi Sensus Ekonomi dengan Jujur
kumparan · 14 Agustus 2026 pukul 16.18
Prabowo: APBN Harus Jadi Alat Perjuangan dan Hadir untuk Rakyat
kumparan · 14 Agustus 2026 pukul 16.13