Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Restitusi dan Belanja Subsidi Diproyeksi Bebani Defisit APBN di 2026

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet memprediksi defisit APBN pada akhir 2026 berpotensi melebar meski di semester I-2026 rasio defisit terhadap PDB sempat turun menjadi 0,76% dari 0,81% pada periode yang sama tahun 2025. Penurunan itu bersifat sementara karena ditopang pertumbuhan penerimaan pajak 19% dan kenaikan harga komoditas yang berpotensi tidak setinggi semester pertama. Di semester II-2026, beberapa faktor berpotensi memperlebar defisit. Pertama, belanja subsidi pemerintah diproyeksi naik, terutama subsidi BBM. Kedua, restitusi pajak yang selama ini ditahan karena pemeriksaan otoritas berpotensi mulai dikembalikan ke wajib pajak di semester II-2026, yang akan menggerus penerimaan pajak. Yusuf memperkirakan masih ada peluang shortfall penerimaan perpajakan sekitar Rp73-Rp149 triliun sepanjang tahun ini, sehingga angka defisit kemungkinan melebihi target yang ditetapkan pemerintah.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait