Restitusi dan Belanja Subsidi Diproyeksi Bebani Defisit APBN di 2026
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet memprediksi defisit APBN pada akhir 2026 berpotensi melebar meski di semester I-2026 rasio defisit terhadap PDB sempat turun menjadi 0,76% dari 0,81% pada periode yang sama tahun 2025. Penurunan itu bersifat sementara karena ditopang pertumbuhan penerimaan pajak 19% dan kenaikan harga komoditas yang berpotensi tidak setinggi semester pertama. Di semester II-2026, beberapa faktor berpotensi memperlebar defisit. Pertama, belanja subsidi pemerintah diproyeksi naik, terutama subsidi BBM. Kedua, restitusi pajak yang selama ini ditahan karena pemeriksaan otoritas berpotensi mulai dikembalikan ke wajib pajak di semester II-2026, yang akan menggerus penerimaan pajak. Yusuf memperkirakan masih ada peluang shortfall penerimaan perpajakan sekitar Rp73-Rp149 triliun sepanjang tahun ini, sehingga angka defisit kemungkinan melebihi target yang ditetapkan pemerintah.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JPNN.com · 30 Juli 2026 pukul 17.22
Semester I 2026, Sektor Kepabeanan dan Cukai Sumbang Rp 152 Triliun Penerimaan Negara
JPNN.com · 30 Juli 2026 pukul 07.03
Pulih Percaya
Berita terkait
Restitusi Pajak Tertahan Gara-gara APBN Ketat, Utang Negara Rp70 T Ancam Likuiditas Pengusaha
SINDOnews · 16 September 2026 pukul 20.38
Kemenkeu Atur Kebijakan Subsidi BBM Agar Tak Menekan Fiskal
JPNN.com · 1 Oktober 2026 pukul 21.06
Pemerintah Bidik 3,49 Juta Lapangan Kerja Baru Tercipta pada 2027
CNN Indonesia · 1 Oktober 2026 pukul 04.45
Suahasil Sebut APBN-Danantara Gandengan Buat Menopang Ekonomi Indonesia
Liputan6.com · 30 September 2026 pukul 19.50