Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Rencana Rahasia Iran untuk Tingkatkan Eskalasi Perang dengan AS

Setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani nota kesepahaman dengan Iran pada Juni, pemerintah AS berupaya membangun dukungan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik. Namun, para pemimpin garis keras Iran di Teheran menyusun rencana berbeda, menganggap MoU tersebut sebagai upaya AS dan Israel untuk meredakan tekanan ekonomi global sekaligus mengulur waktu sebelum serangan yang lebih besar. Alih-alih mempercayai diplomasi, Iran menggunakan dua bulan terakhir untuk mempersiapkan eskalasi militer yang lebih luas.

Persiapan Iran mencakup pemberian kendali yang lebih besar kepada Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) atas tentara reguler, penunjukan pejabat militer yang dekat dengan rezim, serta percepatan produksi rudal dan drone. Iran juga meningkatkan operasi militer di Selat Hormuz dan Laut Merah, sambil mendukung operasi Houthi di Yaman untuk menargetkan minyak dan pelabuhan Arab Saudi. Intelijen Arab melaporkan bahwa IRGC mengirim komandan ke wilayah Houthi dan mencatat adanya kekhawatiran akan operasi darat di Kuwait.

Di balik layar, Komandan Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, memosisikan tujuh pemimpin keamanan untuk mengendalikan institusi militer yang dirombak. Meskipun Presiden Masoud Pezeshkian yang lebih moderat memperingatkan risiko keruntuhan ekonomi, faksi militer tetap mendominasi pengambilan keputusan. Dengan perundingan yang buntu, Trump kembali menekan melalui sanksi ekonomi dan blokade laut, sementara Teheran tampaknya bersiap untuk konflik yang lebih luas. Penasihat strategis Iran, Mehdi Mohammadi, menyebut situasi saat ini sebagai "ketenangan sebelum badai," sementara Trump mengklaim niat untuk menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait