RI Masih Bisa Kebanjiran Investasi Nikel US$ 20 Miliar, Tapi..
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Industri nikel Indonesia mencatat nilai investasi sebesar US$44 miliar pada 2025, dengan potensi tambahan US$20 miliar dari 2026 hingga 2028. Pengembangan industri ini sejak 2014 telah menjadikan Indonesia produsen nikel terbesar dunia. Namun, industri menghadapi tantangan ekspor, di mana pengiriman nickel pig iron (NPI) tertahan karena harus menjalani pengujian Logam Tanah Jarang (LTJ) sebelum ekspor. Akibatnya, sekitar 120 kapal tidak bisa berlayar dari pelabuhan, menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha dan pemerintah.
Masalah ini berasal dari kekosongan regulasi mengenai batasan LTJ. Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menekankan perlunya tata kelola yang baik dengan kepastian usaha dan perlindungan hukum mengingat investasi yang besar. Para pakar, termasuk dari Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI) dan Indonesia Mining Association (IMA), menyoroti bahwa LTJ umumnya merupakan mineral ikutan dengan kadar kecil, sehingga pengaturannya harus dibedakan dari komoditas utama. Saat ini, banyak perusahaan belum memiliki fasilitas atau teknologi untuk memanfaatkan LTJ secara ekonomis.
Untuk mengatasi ketidakpastian, pelaku usaha meminta parameter teknis, metodologi pengujian, dan mekanisme pelaporan yang jelas dan seragam. Diperlukan tindakan dari pemerintah, seperti Kementerian ESDM, untuk menetapkan regulasi yang memadai guna menjamin kelancaran ekspor dan stabilitas industri nikel.
Bagikan
Berita terkait
Bahlil Buka Suara soal Eskpor Tertahan Karena Aturan Logam Tanah Jarang
Detik.com · 3 Agustus 2026 pukul 19.30
Bahlil: Indonesia Belum Punya Industri Logam Tanah Jarang
Liputan6.com · 3 Agustus 2026 pukul 19.00
Heboh Ekspor Nikel-Timah Disetop Gegara LTJ, Ini Keputusan Pemerintah
CNBC Indonesia · 3 Agustus 2026 pukul 11.20
Ekspor Nikel Terhambat LTJ, Pelaku Usaha Minta Kepastian Standar
CNBC Indonesia · 31 Juli 2026 pukul 17.00