Sanksi Baru, AS Patok Tarif 100% untuk Minyak Rusia
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Presiden AS Donald Trump menandatangani Ley Lindsey O. Graham Sanctions Rusia and Iran Act of 2026 pada Jumat (18/9/2026). Undang-undang ini menyaksikan sanksi baru yang menargetkan pejabat Rusia, entitas keuangan, serta sektor energi dan pertahanan. Amerika Serikat akan menerapkan tarif hingga 100 persen terhadap negara yang membeli minyak dan gas dari Rusia, yang berpotensi menyentuh Tiongkok dan India. Sanksi juga menargetkan armada kapal tanker 'bayangan' milik Moskow serta perusahaan yang mendukung militer Rusia. Dengan demikian, langkah ini bertujuan memutus aliran pendapatan yang mendanai perang Ukraina. Secara paralel, Iran Sanctions Act of 1996 diperpanjang masa berlaku hingga 2031. Dewan Perwakilan Rakyat dengan mayoritas Partai Republik mengesahkan paket sanksi dengan suara 262 melawan 159. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memberi apresiasi atas kebijakan simbolis ini. Sementara itu, India menyatakan akan terus membeli minyak melalui diversifikasi sumber pasokan. Penandatanganan undang-undang dilakukan satu minggu sebelum pertemuan Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Washington.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
SINDOnews · 18 September 2026 pukul 14.38
Iran Tegaskan Selat Hormuz akan Tetap Ditutup hingga Trump dan Netanyahu Dilengserkan
JPNN.com · 18 September 2026 pukul 13.35
Selama Trump & Netanyahu Masih Berkuasa, Iran tidak Akan Membuka Kembali Selat Hormuz
JPNN.com · 17 September 2026 pukul 15.57
Trump Ungkap Tawaran dari Iran: Mereka Ingin Buat Kesepakatan
CNN Indonesia · 17 September 2026 pukul 14.53
Aturan Baru AS, Trump Bisa Ancam Pembeli Minyak Rusia kena Tarif 100%
Berita terkait
Kongres AS Sepakati Rentetan Sanksi Baru untuk Rusia
Detik.com · 18 September 2026 pukul 09.59
Trump Peringatkan Ukraina: Jangan Serang Rusia, Dunia Bisa Dirugikan
Warta Ekonomi · 14 September 2026 pukul 15.11
Donald Trump Prediksi Perang dengan Iran Berakhir Usai Pemilu AS
Media Indonesia · 12 September 2026 pukul 21.14
Trump Berubah Sikap soal Perang Iran: Bisa Berakhir Sebelum 3 November
Warta Ekonomi · 11 September 2026 pukul 16.57