Sanksi Ekonomi AS Tidak Akan Meruntuhkan Pemerintahan Mojtaba, Ini 5 Alasannya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan sanksi baru terhadap Iran yang digambarkan sebagai 'serangan finansial terbesar'. Sanksi ini bersifat sekunder, mengancam negara dan lembaga keuangan asing yang berdagang dengan Iran, termasuk Tiongkok. Menurut mantan pejabat Pentagon Michael Mulroy, sanksi ini tidak akan menjatuhkan rezim tetapi akan merugikan pemerintah dan Garda Revolusi Iran. Upaya ini juga menargetkan armada bawahan yang digunakan untuk menyelundupkan minyak Iran. Mulroy menilai strategi ini dipilih sebagai alternatif eskalasi militer menjelang pemilu AS, mengingat minimnya dukungan publik untuk konflik militer. Sementara itu, China dan Rusia diperkirakan akan tetap mendukung Iran melawan tekanan AS, menurut analis hubungan internasional Mohsen Farkhani.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 24 Agustus 2026 pukul 18.07
Iran Ancam Konsekuensi Bagi Negara yang Gabung Operasi Ekonomi AS
VOI · 24 Agustus 2026 pukul 22.00
Tidak Takut, Iran akan Gunakan Segala Cara Lawan Tekanan Ekonomi AS
VOI · 24 Agustus 2026 pukul 23.00
Donald Trump Sesumbar Lagi, Tuduh Iran Sedang "Runtuh Total"
CNBC Indonesia · 24 Agustus 2026 pukul 21.00
Bukan Karena Kim Jong Un, Latihan Militer AS-Korsel Tiba-Tiba Batal
Berita terkait
Presiden Iran Klaim Dunia Kagum dengan Perlawanan Teheran Kalahkan Melawan AS, Ini 4 Alasannya
SINDOnews · 23 Agustus 2026 pukul 17.30
Iran: Sanksi Baru AS adalah Terorisme Ekonomi, Kejahatan terhadap Kemanusiaan
SINDOnews · 21 Agustus 2026 pukul 18.26
China Tolak ‘Economic D-Day’ Trump terhadap Iran, Sebut Sanksi Tak Menyelesaikan Masalah
VOI · 20 Agustus 2026 pukul 16.00
AS Siapkan Sanksi Ekonomi untuk Iran Pekan Depan, Lebih Keras dari Sebelumnya
JPNN.com · 14 Agustus 2026 pukul 13.22